Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 151

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 151Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
30 November 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

151

Lohgawe masih belia. Tapi semuda itu benar mengagumkan bagaimana mengendalikan dirinya ketika Kertapati telak menohok buhul kepekaannya. Sengaja demang itu menyebut ibu dan bapak Lohgawe supaya ia kalap, dan dengan emosi meledak-ledak akan mudah dikalahkan.

“Siapa dapat menentukan mati hidup manusia? Yang tidak berawal pasti tidak berakhir. Yang terlahir, pasti akan mati. Tidak ada yang harus dirisaukan.” Lohgawe berdiri dengan posisi kaki merenggang. Tenaga cadangan yang berpusat di pusar mulai mengalir ke seluruh tubuh.

“Bocah malang yatim piatu. Aku terlanjur datang. Satu-satunya kepuasanku saat ini cuma membunuhmu. Itu saja.” Kertapati mengerling Kaki Suryadharma. Dengan menekankan “itu saja” demang itu menegaskan untuk entah ke berapa kali bahwa guru Lohgawe tidak boleh turut campur apapun yang menimpa muridnya.

“Aku sudah mengingatkanmu. Tugas sudah kutunaikan.” Lohgawe bersiaga penuh.

Kembali terjadi pertempuran segitiga yang sekarang lebih dahsyat lagi karena para pihak, terutama demang Kertapati, benar-benar berkelahi dengan semangat membunuh. Resi Kamayan, walau tidak seberingas Kertapati, juga meluncurkan serangan mematikan. Adapun Lohgawe kini berbeda dengan tadi karena tenaga cadangan mulai berputar ke seluruh aliran darahnya.

Terdengar desau angin, awalnya lirih tapi lama kelamaan semakin keras. Langit tertutup mendung disusul halilintar menyambar, kemudian turunlah hujan seperti ditumpahkan dari angkasa. Pohon-pohon tumbang. Daun-daun rontok berhamburan. Dunia seperti kiamat.

“Nini, pergilah. Jangan mengurusi persoalan anak-anak,” Suara Kaki Suryadharma halus tapi mengatasi angin ribut disertai ledakan petir itu. Tubuhnya seakan di balik sebuah kurungan, sehingga air hujan tidak membasahinya. Kakek itu mengangkat tangannya, dan, lenyap suasana menyeramkan. Keadaan kembali tenang; tidak ada badai; tidak ada hujan petir. Nyenyat.

Bergulung-gulung asap masuk mulut gua, dan nenek iblis tahu-tahu sudah berdiri persis di depan Kaki Suryadharma. Mulutnya mengeluarkan api, matanya pun memancarkan sinar yang panas. Kedua tangannya yang kurus memegang sepasang tombak, lalu dengan garang nenek itu menerjang. Kaki Suryadharma tidak bergerak. Matanya memandang penuh kesabaran.

“Dess!” Percikan api berhamburan ketika batu hitam sebagai alas duduk kakek itu pecah dihantam tombak. Kaki Suryadharma masih bersila walau tombak itu tepat menghunjam dadanya sampai tembus punggung.

Nenek iblis terhentak. Napasnya memburu oleh amarah dan rasa penasaran. Ia tidak mau melihat kenyataan. Selama ini, menurutnya, ia satu-satunya manusia paling sakti. Mana mungkin menyerah begitu saja? Ia mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang, tapi mendadak bertiup angin kencang melebihi puting beliung. Tahu-tahu tubuh nenek itu terhempas ibarat daun diseret topan, dan jatuh bedebum jauh di luar gua seperti beringin raksasa roboh.

Nenek iblis merinding. Ia tidak tahu kekuatan apa yang menyambarnya. Dan ia tak dapat membayangkan betapa kuatnya tenaga sakti yang mampu melemparkan dirinya tanpa ia melihat bayangan apapun. Lebih ngeri lagi ketika ia akan menggerakkan kakinya, ia merasakan tubuhnya terikat berlapis-lapis oleh sesuatu yang tidak bisa diraba.