Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 152

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 152Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
01 Desember 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

152

Kaki Suryadharma tetap bersila, Lalu tangan kanannya diangkat, dan nenek iblis itu merasa ikatan mengendur. Ia mampu menggerakan badan, kemudian berjalan tersaruk-saruk sambil memaki-maki.

“Sekali ini aku mengaku kalah. Tapi Suryadharma jangan engkau berlega hati. Aku akan kembali sewaktu-waktu.” Suara parau nenek mengerikan itu terdengar jelas meski tubuhnya tak lagi kelihatan.

Pertempuran demang Kertapati dan Resi Kamayan menghadapi Lohgawe diteruskan lagi sesudah “reses” dengan hadirnya kembali nenek iblis yang hanya membuat gaduh. Lohgawe kini tidak bimbang lagi memukul atau pun menendang, bahkan berani menerima hantaman.

“Wuuttt!” Kaki kiri Kertapati menendang keras sekali dan kalau mengenai lutut Lohgawe tentu celaka sebab jika lutut patah ia pasti kalah. Namun dengan kegesitan mengagumkan, anak muda itu melompat ke arah Resi Kamayan sembari memukul kepalanya. Sang resi meski sempat menghindar namun ia memilih menangkis. Terjadi benturan dahsyat.

“Desss!” Resi Kamayan terpental ke belakang dengan muka pucat. Tenaganya kalah jauh

Pertempuran tiga orang sakti itu bukan lagi saling menjajaki. Setiap serangan yang dituju titik-titik fatal. Ketiganya sama-sama trengginas: tendang menendang; pukul memukul; namun masing-masing mampu menghindar dengan cekatan atau kadang sengaja saling mengadu tenaga. Tidak hanya Resi Kamayan, tapi demang Kertapati juga merasakan perubahan. Kekuatan anak muda itu berlipat ganda. Tanpa bersepakat, mereka menengok ke sudut gua, Eyang Suryadharma benar-benar “tidur” dalam tafakur. Jadi, dari mana Lohgawe beroleh tenaga tambahan, mereka hanya bisa bertanya-tanya dalam batin.

“Dukkk!” Sisi tangan kanan Lohgawe bertemu dengan lengan kiri Kertapati dan demang itu terhuyung-huyung sampai dua tombak.

Bocah keparat!” maki Kertapati.

“Plakkk!” Lengan kiri Lohgawe beradu dengan tangan kanan Resi Kamayan dan resi itu sempoyongan lima jangkah.

“Anak setan!” Demang Kertapati memaki. Tubuhnya basah oleh keringat. Resi Kamayan mukanya juga berpeluh. Matanya memandang Lohgawe dengan kagum. Sejauh ini belum pernah ditemui lawan setangguh pemuda yang seumuran anaknya itu (tapi sang resi pantang menikah).

“Anak muda, engkau hebat,” puji Resi Kamayan dengan napas memburu.

“Pertarungan ini berhenti atau dilanjutkan?” tanya Lohgawe.

“Berhenti kalau engkau sudah mati!” bentak demang Kertapati sembari melolos pusaka keris Naga Siluman luk tiga belas dhapur singa barong. Filosofi angka 13 menurut tradisi Jawa memiliki arti petaka. Pembuatan keris luk 13 dimaksudkan agar mempunyai tuah energi ampuh, sekaligus tolak bala dan menimbulkan aura perbawa bagi pemegangnya.

Lohgawe berdiri kokoh. Tangan kanannya mengusap keringat yang berdliweran di dahi.

“Kertapati. Kalau saja dengan kebesaran jiwa engkau menyerah, maka kita hentikan saja perkelahian sia-sia ini. Engkau hanya perlu mempertanggungjawabkan kelakuanmu di hadapan sang prabu.”

“Apa?!” Mata demang Kertapati seperti mengeluarkan bara. Ia disuruh menyerah?

“Bedebah Lohgawe! Engkau akan mati di ujung keris pusaka ini.” Tanpa memberi tanda apapun Kertapati langsung menusukkan kerisnya mengarah ulu hati Lohgawe.