Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 154

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 154Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
03 Desember 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

154

Kematian Kertapati tidak seorang pun menangisi karena senja diam-diam telah bersekutu dengan waktu. Ia juga akan mati seperti Kertapati: tidak ada kepahlawanan, tidak ada puja-puji.

“Perlukah itu kiai?”

Resi Kamayan tersenyum pahit.

“Bukankah alam berbuat adil? Kertapati pembunuh ayah ibuku.” ujar Lohgawe.

“Keadilan adalah sesuatu yang ada karena tidak ada.” jawab Resi Kamayan. Ia kemudian menghunus keris carubuk yang tadi disengkelitkan di pinggangnya.

“Menang kalah, bagiku, sama tidak pentingnya. Kertapati mati dalam pertempuran. Gara-gara dia, orang tuamu terbunuh. Jangan lupa, akulah yang memanah dalang Ki Panjang Mas. Aku juga yang memanah Dinar dan istrinya. Engkau takut menghukumku?”

“Kiai…jadi engkau yang..”

“Benar! Mari kita lanjutkan perkelahian ini. Jangan membuang waktu.” Resi Kamayan dengan garang menerjang Lohgawe. Kerisnya menusuk lurus ke dada lawannya. Lohgawe gesit mengelak. Terjadilah pertempuran satu lawan satu yang tidak seimbang. Tadi pun dikeroyok dua Lohgawe bisa membunuh Kertapati. Apalagi sekarang tampak sang resi berkelahi tanpa greget. Lohgawe menyadari hal ini. Kenapa pertempuran diteruskan? Seberapapun menepnya Lohgawe, ia tetap seorang anak muda yang betapapun masih memiliki darah panas. Ayahnya mati dan resi inilah yang memanahnya.

Seratus jurus mereka bertempur, Resi Kamayan terbit sayah. Ia bukan pria gila wanita. Ia tidak pernah menghambur-hamburkan tenaga main perempuan. Ia memelihara kesehatan dengan rajin meditasi. Tapi usia tidak bisa diperdaya. Tadi pun napasnya mulai terengah-engah. Apalagi setelah berlangsung perkelahian cukup memeras tenaga. Tubuh Resi Kamayan mandi keringat.

“Tranggg!” Keris Kalawelang beradu dengan keris carubuk. Begitu kerasnya benturan, terlebih Resi Kamayan makin loyo, membuat senjatanya terpental. Tapi resi itu tidak menyerah. Dengan tangan kosong ia menghantam sekuatnya dada Lohgawe. Ini jurus sampyuh.

“Plakkkkk!” Lohgawe menangkis dengan tangan kanan, sementara keris Kalawelang ia pindahkan ke tangan kiri. Resi Kamayan sempoyongan beberapa jangkah, dan kesempatan ini tidak disia-siakan Lohgawe. Tangan kanannya mengambil keris Naga Siluman dan dilemparkan bagai anak panah meluncur deras ke dada Resi Kamayan.

“Crappp!!!” Keris pusaka milik demang Kertapati amblas ke dada Resi Kamayan sampai gagangnya. Persis seperti dulu ia memanah Dinar Saka, Latri Dewani dan Ki Panjang Mas.

Lohgawe menyembah takzim di hadapan gurunya, Kaki Suryadharma.

“Sujud syukur kepada hyang wisesa,” kata Lohgawe sambil menundukkan kepala.

“Kenapa?” Kaki Suryadharma bertanya.

“Berkah hyang wisesa saya berhasil memenangkan pertempuran.”

“Semakin manusia mengatasnamakan tindakannya sebagai barokah hyang wisesa, kian banyak terjadi kehancuran. Sang akarya semesta tidak memerlukan suaka dari manusia yang sekadar makhluk rapuh ciptaan-Nya.”

“Sendhika, Guru. Saya selayaknya bersyukur telah melaksanakan tugas dengan berhasil. Semoga rama dan iyung tersenyum dalam keabadian,” ujar Lohgawe.

“Keabadian adalah sejenis omong kosong, Lohgawe. Yang tidak abadi itulah keabadian.”

“Sendhika.”

“Yang tidak memburu kebahagiaan itulah sejatinya bahagia. Dan orang paling miskin itu adalah orang yang memiliki banyak keinginan.”