Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 155

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 155Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
04 Desember 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

155

Lohgawe mengangguk. Matanya memandang di luar gua. Tampak awan bergerak lamban seperti biri-biri. Ada persamaan awan dengan yang dikatakan gurunya. Tidak membutuhkan apa-apa, tidak kekurangan sesuatu. Itulah bahagia. Tidak mencari, maka tidak meleset. Tidak perlu, maka tidak kurang. Lohgawe teringat ucapan seorang pujangga besar di kitab keropak, yang melaksanakan “hidup di tingkat bawah, namun pikiran di tingkat tinggi.”

Hyang wisesa tidak memiliki agama. Kalimat ini bukan dari Kaki Suryadharma. Ucapan ini muncul dari negeri kegelapan, India, di mana saat itu agama hadir sebagai entitas mencekam. Kemudian terbitlah wacana menyelamatkan pemahaman “Sang Pencipta” dari dangkalnya akal yang brutal. Dan Gandhi pun tewas dibunuh oleh seorang Hindu radikal, seorang militan yang–kita tahu-mengorbankan agama karena fanatisme.

Seorang filsuf mengatakan bahwa “Hyang Wisesa” bukanlah kepastian, namun harapan. Jika kita menghadapi “yang di Atas” serta sesama makhluk bukan sebagai sebuah konsep, maka boleh diharap kita akan lebih tawadlu. Sebaliknya, jika “Hyang Wisesa” kita rumuskan sebagai konsep; lalu kita berhalakan konsep tersebut; kita sembah sedalam-dalamnya; maka pada ketika itulah sesungguhnya “Dzat Tertinggi” diam-diam kita reduksi ke dalam wacana yang didefinisi. Sikap menghadapi hyang wisesa akan berbeda jika dengan rendah hati kita memang tidak tahu pemahaman tentang-Nya.

“Hyang wisesa hadir ketika ada perbuatan baik terhadap liyan; seberapapun kecilnya dan sesederhana apapun. Kerelaan yang tulus; yang bisa memperbaiki keadaan meski sementara yang nirpamrih,” kata Kaki Suryadharma. “Saat ada penderitaan begitu hebat; dan ada perbuatan baik, juga tatkala keindahan begitu mendebarkan; juga ketika jalan dharma dilakukan tanpa harapan; di saat itulah hyang wisesa ada.”

Hyang wisesa yang hidup; bukan yang didefinisikan; bukan pula yang diwacanakan lalu diberhalakan.

*******

Aavarana Karma

SETIAP pergantian pimpinan, kademangan Tembayat tak pernah jenjam. Saat Suradipa sebagai pengampu, kawula hanya sebentar hidup nyaman, selebihnya berada di dalam tekanan. Ketika Dinar dan Martapura bergantian memimpin, kademangan itu gemah ripah subur makmur, namun tidak berlangsung lama. Keduanya tewas mengenaskan, dibokong oleh Resi Kamayan.

Di bawah titah Kertapati, warga kian gelisah dikarenakan mantan lurah itu memimpin dengan tangan besi. Tembayat di titik nadir saat demang Ngaluwi mengampunya. Warga didera percobaan tak henti-henti: ekonomi memburuk; langkanya bahan-bahan pokok dan kalau toh ada harganya melangit; tanah puso mengakibatkan paceklik; pajak sangat memberatkan. Puncaknya adalah sampar entah oleh virus apa. Penularan begitu cepat, kematian datang rikat: pagi sakit siang wafat. Sepertiga penduduk Tembayat meninggal dalam kurun enam bulan akibat pagebluk.

Dalam kurun waktu 15 tahun, Mataram mengalami dua kali suksesi.

Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram (sebelumnya bernama Raden Mas Jolang) adalah raja kedua Kasultanan Mataram yang memerintah selama 12 tahun (1601-1613). Ia juga kerap disebut dengan gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak, atau cukup Panembahan Seda Krapyak, yang artinya "Baginda wafat di Krapyak”.