Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 156

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 156Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
05 Desember 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

156

Saat kisah ini terjadi, Mataram dipimpin oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo, dengan gelar begitu panjang: Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram Sultan Agung Senapati-ing Ngalaga Abdurrahman Susuhunan Hanyakrakusuma Panembahan Hanyakrakusuma Prabu Pandita Hanyakrakusuma Senapati-ing-Ngalaga Sayidin Panatagama. Nama aslinya Raden Mas Jatmika, dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Merupakan putra dari pasangan Panembahan Hanyakrawati dan Ratu Mas Adi Dyah Banawati.

Menurut H.J de Graaf, pakar Jawa kuno, dalam bukunya berjudul Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung. Setelah Surabaya takluk, militer Susuhunan Sultan Agung mengalami kelesuan. Penyebabnya antara lain ekspansi keraton dan kelelahan karena kerja keras puluhan tahun juga adanya pagebluk. Laporan ke negara kincir angin, Belanda, 27 Oktober 1625, rakyat dirundung kematian, perang tidak ada selesainya, juga terjadi epidemi.

Pagebluk atau sampar ketika itu menelan korban puluhan ribu nyawa manusia. Maka muncul budaya setiap warga menyiapkan padasan di depan regol rumah. Tempayan itu multi tujuan: menyediakan minum untuk orang dahaga; juga setiap anggota keluarga balik dari sawah harus membersihkan diri sebelum masuk rumah; padasan itu sekaligus menjadi perekat sosial.

Kita ingat Darsi. Ya, Darsi, wanita cantik ampeyan dari demang Kertapati. Meninggalnya sang suami praktis mengubah statusnya menjadi janda yang memasuki usia paruh baya. Petitih, atau adagium “sudah jatuh tertimpa meja” berlaku untuknya. Suaminya meninggal. Nama Darsi ikut tercoreng. Ia menjadi orang usiran, keluar dari rumah mewah kademangan dengan dibebani seorang putri, Mundingsari. Single parent dalam suasana pagebluk, bagi Darsi, neraka nasuha.

“Mengapa nasibku begitu celaka? Aku sudah banyak berkorban,” sambat Darsi.

Pengorbanan dalam pemahaman Darsi tentu beda dengan Ibrahim bersedia menyembelih anak yang dicintainya untuk Tuhan yang tak diharapkannya memberi imbalan, karena di hari itu Tuhan tidak berjanji apa-apa. Seandainya pun ada janji bahwa pengorbanannya akan mendapat imbalan, akankah itu memiliki arti setelah anak itu mati? Esensi pengorbanan adalah memberi–bukan transaksi sebagaimana pengorbanan versi Darsi.

Lalu Darsi pun menyerah. Takluk pada nasib. Bagai burung patah sayapnya, itulah Darsi yang mengenalkan diri sebagai Warsilah atau Warsi di kawasan plesiran. Tiga belas tahun silam, Warsi bisa leyeh-leyeh di kamar mewahnya, dilayani enam dayang. Kini ia menggerapai mimpi di “kawasan industri” tempat pelancong mengumbar syahwat, di mana sebagian besar nasabahnya masyarakat kelas sudra yang hobi jajan. Ia terusir dari kademangan tanpa bandasrayan (gana-gini) secuilpun.

“Rasanya baru kemarin aku menjadi istri demang. Rasanya belum lama aku sebagai ratu Tembayat. Siapa nyana aku terbenam di tempat kumuh,” gumamnya.

Di sinilah Cakra Manggilingan bekerja.

Warsi tidak senahas Nimas Lembah, kendati ia tetap saja berjarak dengan nasib baik. Ia sempat berganti-ganti suami sampai tiga kali, dan uniknya mereka (para suami) usianya rentang jauh, sepantar ayahnya. Dengan suami terakhirnya, Warsi mengalami kekerasan fisik dan siksaan yang membuatnya sering tantrum: Menjambak rambut; menangis histeris berkelosotan di ubin.