Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 157

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 157Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
07 Desember 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

157

“Ada dorongan aneh di mana aku merasa asing dan tidak mengenali diri sendiri. Aku lalu melukis laut bergelora. Lalu datang gelombang dan aku menyelam untuk memasrahkan cintaku. Cinta yang mempecundangi harapanku,” tutur Warsi pada Darmi, sahabatnya satu profesi.

Warsi pun mengandung. Mungkin benih Sandiman, barangkali Romdan, siapa peduli.

Matahari bisa begitu terang, tapi begitu jauh dan tak peduli kesengsaraan manusia. Siapa yang tak menangis, tak melihat (Victor Hugo-pen). Betapa buasnya kehidupan, terkadang.

“Perutku buncit,” keluh Warsi.

Dulu ia kerap berkhayal, betapa ia bermanja menyandar di bahu kekar demang Dinar. Kemudian ia akan minta apa saja, yang musykil sekalipun, dan itu harus terpenuhi karena janin dalam kandungan yang meminta. Wanita suka nyidam aneh-aneh.

Warsi menanti kelahiran sang bayi yang sungguh tidak ia harapkan. Ia tahu, bayi tersebut ibarat Karna, yang samar siapa bapak biologisnya. Tokoh itu disebut Karna Lembu Peteng, dan dijadikan bahan perundungan oleh para seterunya, klan Pandawa.

“Akankah kelak anakku seperti Karna?” Warsi mencoba berbesar hati meski ia mengerti, kelak ia akan blingsatan jika sang begejil menanyakan ayahnya. Tapi sudahlah. Yang dibutuhkan sekarang ini adalah ketabahan serta ragat persalinan.

Ke mana para mantan suami Warsi?

“Aku melepaskan bukan berarti menyerah. Terkadang kita memang harus berhenti peduli pada seseorang, bukan membencinya, tapi karena dia tidak menyadari kepedulian kita,” Warsi menatap tanah becek di depannya. Mata itu masih lentik. Raut itu masih legit. Maka ia jadi diva.

“Kadang kita meninggalkan seseorang bukan karena berhenti mencintai tapi karena kita tidak lagi dihargai. Lebih baik menjauhi seseorang bukan karena berhenti mencintai, tapi kita harus melindungi diri dari luka. Menyakitkan sekali ketika kita selalu mengingat seseorang di setiap harimu, namun dia hadir hanya di saat perlu sesuatu,” Warsi menunduk.

“Sekarang ini tidak ada yang lebih baik selain menanti kelahiran.”

Kelahiran bayi dibagi beberapa tahap. Sesi pertama, proses persiapan persalinan dengan tahap awal, aktif, dan transisi. Pada sesi ini dilatasi mulut rahim sampai penuh. Selanjutnya, sesi kelahiran sampai bayi keluar dengan selamat. Muka Warsi mandi peluh. Ia diharuskan mengejan berkali-kali. Tahap ketiga pengeluaran plasenta. Sesudah kelahiran, dilakukan observasi terhadap ibu selama satu jam usai plasenta keluar. Bagi orang Jawa, ari-ari mesti dipendam dalam kuali.

Namun Warsi tidak kunjung bertemu bayinya. Pada hari kedua, naluri Warsi sebagai ibu merasakan sesuatu tidak beres. Ia mendesak dukun pijat yang menangani persalinan. Srikabumi, dukun sepuh itu akhirnya bertutur dengan berat hati.

“Maaf Nyi, ini sesuatu yang sulit saya ucapkan, namun harus saya katakan,” Srikabumi menelan ludah beberapa kali. “Bayi itu kena sawan.”

Sawan!

Mungkin Srikabumi menyederhanakan persoalan; barangkali ia memang tidak tahu. Juga ilmu pengetahuan saat itu belum mengenalkan istilah Down Syndrome: kelainan kromosom yang berdampak pada keterlambatan pertumbuhan fisik dan mental anak.