Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 158

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 158Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
08 Desember 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

158

Pada anak pengidap DS terjadi surplus kromosom nomor 21, lazim disebut kromosom ganda, yang mengakibatkan keguncangan pada sistem metabolisme yang kemudian memunculkan down syndrome.

Warsi tak tahu itu. Yang ia tahu, sawan menimpa anaknya, Karna Lembu Peteng. “Ini anak spesial. Gusti ikhlas menitipkan kepadamu, Nyi, karena tahu nyai ibu spesial.”

Srikabumi benar. Warsi memang ibu spesial. Ia bisa menerima kenyataan segetir apapun dengan positif. Tanpa hujatan, tanpa caci maki. “Aku akan merawat tole dengan baik,” ujarnya.

Setiap bayi lahir dengan pesan, kata seorang penyair, bahwa Tuhan belum jera dengan manusia. Warsi tulus dan berpikir positif akan menjadi ibu spesial bagi sang anak, dan membuat Tuhan tidak kapok dengan manusia. Tapi mengarungi kehidupan tidak cukup dengan ketulusan. Ada hal lain di luar itu. Bayi, yang diterima ikhlas sekaligus bahagia oleh Warsi, ternyata tidak berumur panjang. Rupanya Tuhan punya skenario lain. Ia menganulir keputusan-Nya.

Warsi kembali sebatang kara. Mundingsari, bayi yang ia produksi bersama Kertapati, tak berumur panjang, meninggal saat pandemi bersama ratusan anak-anak bernasib sama. Kini tole, menyusul kakaknya. Tanpa suami, tanpa kerabat, tanpa anak, Warsi karantina mandiri nasibnya.

“Gusti, dosaku banyak. Aku menyadari. Tapi Engkau memberi cobaan seberat ini, tentu memiliki pertimbangan tersendiri.”

Warsi tidak runtuh waspa. Kering sudah air matanya. Ia lupa bagaimana cara menangis yang benar. Ia berusaha tabah walau batinnya remuk.

Mungkin ketabahan itu yang membawanya ke kawasan tamasya syahwat. Ia tidak punya apapun, bahkan harapan. Rajabrana pemberian suaminya, semua “dijarah” Lohgawe. Hanya satu dua perhiasan yang menempel tubuhnya terbawa ketika ia menjadi orang usiran. Giwang subang, anting, gelang keroncong, kalung, cincin, satu demi satu dijual untuk menyambung hidup. Kota raja, tempat ia mencoba mengadu peruntungan, ternyata kota yang garang. Sesuai jargon, bahwa, ibu kota lebih kejam dari ibu suri.

“Ketabahan yang mengantarku ke sini.”

“Betapa menyakitkan cobaan yang mendera Dik War.” Darmi memandang iba.

“Sakit mbakyu. Sakitnya di sini.” Warsi menunjuk dadanya yang gempal cemekel.

Pagi bagi Warsi adalah berkemas diri. Berdandan habis-habisan. Pagi bagi Warsi adalah memintas di jalan makadam, menuju gumuk tempat ia merentalkan alat produksinya, juga tempat ia mengingat tentang dosa, haram, najis, barangkali sifilis. Serta sedikit rasa bersalah. Pagi bagi Warsi adalah waktunya mencari upah, bukan mencari laki-laki. Pagi bagi Warsi adalah penantian dengan harap-harap cemas: adakah tamu hari ini. Pagi bagi Warsi adalah dersik angin samudra, yang menghangatkan pembaringan kusamnya.

Warsi duduk di depan meja yang terbuat dari kayu sengon. Hujan baru selesai menghajar pemukiman lusuh itu. Beda dengan Darmi atau Soblah, ia tidak memasang make-up mencolok di wajah manisnya. Dua tahun menjadi pengasong syahwat, Warsi dikenal banyak pelanggan. Jam sebelas siang, ia biasa menerima dua bahkan tiga pengunjung. Mereka saling tahu, siapa datang dulu, ia berhak mendapat prioritas, tanpa saling cemburu.