Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 159

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 159Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
09 Desember 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

159

Di tempat itu, juga di lokasi sejenis, usia memengaruhi pasaran. Yang lebih tua sadar diri. Tapi Warsi anomali. Umurnya paruh baya, namun pelanggannya banyak. Toh hasil yang didapat tidak semua masuk dompet. Sebagian disisihkan untuk jasa keamanan; sebagian untuk si pemilik rumah; sebagian untuk makan dan sesekali menraktir Darmi atau Watini.

“Rezeki dari yang di Atas. Tidak elok dinikmati sendiri.” Warsi selalu berkata begitu tiap Banon atau Sri menatap sungkan karena kerap ditraktir. Kadang Warsi menolak tamu, beralasan sedang datang bulan, dan merekomendasikan Yatmi yang sedang mengandung. Satu dua tamu, mengikuti rujukan Warsi, karena mereka ingin beroleh sensasi dengan perempuan hamil.

*******

WUKU Wedangkungan, Anggara Kasih. Menurut kitab lama, Selasa Kliwon ini saatnya rahayu, ngunggahna pari maring lumbung brekat, Sri Gati mendhuwur. Hari baik menurut naga dina. Warsi meyakini petangan akan memudahkan mendapat barokah meski usia tidak lagi muda Sekarang 35 tahun umurnya, dan dengan badannya yang gembur ia mantap jadi pelacur. Bukan di atas perbukitan yang kumuh. Warsi mutasi ke tempat plesiran dekat Pantai Widara Payung.

Ada sedikit perubahan pada penampilannya. Pagi malam Warsi memasang lipstick tebal; bedak tebal; beryanci tebal; maskara tebal dan kutang tebal. Hari-harinya diisi dengan bermain kartu, menyulam, dan melayani tamu yang kebanyakan para nelayan. Ia paling suka mengenakan kebaya bersulam benang gim; berbahan beludru; waktu itu belum dikenal payet. Jarik bermotif (seperti) truntum membawa arti katresnan yang tumbuh kembali. Pada pemerintahan Sri Sunan Paku Buwana III, Kanjeng Ratu Kencana (garwa padmi) mengembangkan corak truntum ini.

Setiap ramadan (era Sultan Agung adalah Mataram Islam) Warsi resign, cuti satu bulan. Ia akan aktif kembali dua pekan sesudah Lebaran. Satu setengah bulan karantina di rumah, tiap hari Warsi giat puasa dan ibadah. Lebih mendekatkan diri pada-Nya.

“Bulan baik, saya kembali ke fitrah,” ujar Warsi kepada induk semangnya.

“Lama sekali, Nduk. Gimana nanti rezekimu?” tanya mbah Semi agak menyayangkan.

“Pasrah yang di Atas.”

Tangan Warsi menunjuk langit. Barangkali ini untuk menuding sesuatu yang jauh, tidak terukur–namun justru tak membuatnya risau, karena manusia yang di bawah, tetap bernilai dalam kerelaan di hadapan-Nya.

Sampai suatu siang, hujan rinai Matahari bersinar (udan tekek-pen) Warsi duduk lesu di samping slintru (partisi) rumah Mbah Semi. Wajahnya kusut, rambutnya kusam dengan uban di sana sini. Lima tahun sudah, Warsi menjajakan diri, atau delapan tahunan jika dihitung dari awal ia terjun di dunia remang-remang. Wajahnya menua. Matanya mengalami ablepsia.

“Sakitmu semakin parah, Nduk. Sebulan kamu tidak kepayon. Utangmu numpuk, Nduk. Engkau tahu, penghasilanku dari menyewakan kamar, itu pun tidak seberapa,” ujar Mbah Semi.

“Rasanya aku tidak kuat menanggungmu. Tubuhku semakin ringkih. Sakit-sakitan. Nduk engkau paham?” pandang mata induk semang itu penuh iba. Ia tergolong uzur. Usianya 76 tahun.

Warsi mengangguk.