Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 164

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 164Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
22 Desember 2020 03:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

164

Tidak berapa lama, Warsi membuat perapian dari kayu kering dan ilalang. Tiga jenis ama (wereng tanaman) dibakar menimbulkan aroma harum. Ia menyantap sonte, tutut dan keong mas yang diolah a la barbeku dengan lahap. Sekarang perutnya kenyang. Ia meniup-niup bangsi (suling dari batang padi) tapi tidak keluar bunyi. Warsi tiba-tiba ingin menjadi kili (rahib-pen).

“Mungkinkah aku menjadi pertapa?” Warsi tertawa dengan pertanyaannya sendiri.

“Darsi! Engkaukah itu?”

Seorang lelaki berdiri dalam keremangan. Berdada jembar. Rambutnya ikal.

Dinar Saka. Bekas demang Tembayat itu memandangnya lembut.

“Kita dipertemukan untuk satu alasan. Entah belajar atau mengajarkan. Entah menjadikan baik atau sekadarnya. Tidak ada yang sia-sia dalam perjumpaan ini.”

Darsi diam. Mulutnya terkunci. Sekonyong-konyong lelaki itu membungkuk, menciumi bibir keringnya, dan mengulum lidahnya yang garing. Ia belum pernah merasakan ciuman seperti itu, maka dibiarkan lelaki itu membuka kutangnya. Bukankah hal seperti ini yang ia dambakan?!

Darsi pasrah, dan kepasrahan itu didukung oleh redupnya malam. Mereka berkelindan, dan lupa mengabsen waktu. Mata Darsi terpejam dan ia merasa berlayar ke samudra yang dalam mimpi tidak ia temukan. Laut terus mengalun, dan setelah debur surut, Darsi tersadar.

“Aku tidak menyangka kita bertemu di sini,” bisik Darsi haru.

“Kita mempelai.”

“Benarkah?”

Lelaki itu mengangguk.

“Boleh aku bertanya?”

“Silakan.”

“Kenapa engkau izinkan hal buruk terjadi padaku?”

“Sesuatu sering di luar kendali.”

“Aku sendirian. Putus asa. Aku melacur demi hidup.”

“Ya.”

“Jantungku bermasalah. Aku kena raja singa. Hidupku tergerus. Aku tidak hanya gagal memahami keinginanmu, tapi aku gagal bahkan untuk melupakanmu.”

“Hidupmu sembrono. Engkau menerima banyak lelaki secara acak.”

“Sekadar mempertahankan hidup. Cari kerja begitu sulit. Aku butuh makan.”

“Lupakan itu. Belajarlah mensyukuri apapun yang terjadi. Semua indah pada waktunya. Tersenyum dan buatlah garis di lesung pipimu pada tiap bulan baru.” Lelaki itu mengembangkan tangannya. Darsi merasa damai dalam pelukannya. Seperti anak ayam dalam kempitan induknya.

“Ada keriangan tak terukur ketika engkau bersua dengan badai kehidupan. Ada semacam kegairahan dalam badai, dan aku akan menuntunmu agar tidak tenggelam.”

“Kasta kita berbeda, aku hanya dayang. Tapi kita bernaung di langit yang sama.”

“Pohon pinus dan pohon cemara berjanji tidak saling melupakan.”

“Ya kangmas. Gunung dan laut tidak bersatu, tapi kita bukan mereka.”

“Benar Darsi. Kita adalah ombak di samudra yang sama; kita daun dari pohon yang sama dan kita buah dari huma yang sama.” bisik Dinar.

Darsi tersenyum dan ia tidak takut lagi kendati malaikat penjaga nirwana dengan pedang menyala terus menudingnya. Ia melihat malaikat lain ada di sisinya sambil berkata: “Tenangkan dirimu. Bayangkan hal baik yang kau inginkan akan terjadi.” Malaikat itu terbang mengantarkan puja-pujinya ke nirwana.