Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 168

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 168Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
24 Desember 2020 03:37 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

168

Keadaan Darsi yang menakjubkan bukan tanpa sebab. Kematian kuasa prerogatif sang pencipta semesta. Jika tiba ajal, bersembunyi di liang semut pun sang maut datang menjemput. Sebaliknya, kalau memang belum titiwanci seperti Darsi, meski berkali-kali terancam maut toh selamat. Banyak orang sejak muda mengabdikan diri menjadi prajurit, ratusan kali berperang di medan laga, selalu lolos dari incaran maut. Setelah pensiun berada di domain nyaman, mengasuh cucu, datang penyakit lalu mati.

(Darsi tentu tewas oleh gigitan ular helcher, kalau saja ia tidak menyantap daging disertai empedu ular tersebut. Secara kebetulan, empedu merupakan penawar racun sangat mujarab).

Darsi tergelimpang di mulut gua. Pingsan semalam suntuk. Di dalam tubuhnya terjadilah “pertempuran” dahsyat antara dua kekuatan yang berlawanan, antara racun dan penawarnya. Di keesokan hari, beberapa waktu setelah sinar Matahari memandikan permukaan pulau ular dengan panasnya yang membuat gatal di kulit, Darsi siuman. Ia mengerjapkan mata, menarik napas yang terasa ringan, menggeliat ke kanan dan kiri, lalu bangkit duduk. Mengingat kejadian semalam.

“Tenangkan hati dan pikiranmu,” bisik Darsi. Dalam keadaan seperti itu, ia harus tenang. Harus menentukan apa yang lebih dulu dilakukan. Perutnya berkeruyuk.

“Air. Aku harus mendapatkan air.”

Darsi mencari sumber di pulau. Tanpa air sebagai sendang kehidupan manusia akan mati. Ia yakin di pulau yang banyak pohon tentu ada tuk. Ia akhirnya menemukan mata air di belakang bukit yang merupakan hutan. Darsi kembali ke gua yang dipenuhi stalagmit. Ia merangkak masuk lebih dalam dan menemukan lorong yang tertutup batu. Dengan meraba-raba dalam gelap, Darsi menyusur “koridor” sepuluh meter, dan ketika sampai ujung kelihatan sinar. Ia terus maju sampai ke sebuah ruangan enam meter persegi yang di atasnya ada lubang masuk sinar Matahari. Di ruang seperti aula itu ia menemukan menhir, batu hitam panjang peninggalan era megalitikum juga dolmen (tempat sesaji-pen) serta sarkofagus untuk menyimpan mayat.

“Pulau ini pernah ditempati manusia, entah kapan,” Darsi bergeramang.

Sejak hari itu Darsi menjadi penghuni tunggal pulau ular. Ia tidak kesulitan bahan makan, sebab di pulau tumbuh subur jamur laut putih (snow fungus) berbentuk mirip rumput laut, meski hambar namun memiliki khasiat penyembuh kanker, anti radang, menurunkan kolesterol, tensi, juga menguatkan paru serta mengikis pengerasan pembuluh darah arteri (arteriosklerosis).

Menu keseharian Darsi adalah jamur, ikan, daun-daun muda, buah-buahan dan diselingi daging serta empedu ular laticauda yang berbisa sekelas helcher. Lagi-lagi secara tidak sengaja ragam makanan (terutama jamu dan empedu ular) juga akar widara upas (Merremia mammosa) mendatangkan kekuatan di tubuhnya. Buah bidara upas diyakini mustajab sebagai penetral racun (antidot) karena mengandung damar, resin, pati dan zat oksidase.