Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 171

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 171Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
25 Desember 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

171

Darsi untuk kedua kalinya terseret ombak mengerikan. Tubuhnya sebentar tenggelam lalu diangkat tinggi seperti menyentuh langit untuk kemudian dihempaskan ke palung. Entah sampai berapa lama. Namun tangan sang hyang akarya semesta kembali menyelamatkan dirinya.

Senja itu Darsi berlari di sepanjang pantai pulau kecil, kadang tertawa kadang menangis. Tangan kanannya menggenggam kembang wijayakusuma. Rambut panjangnya beriap-riap tidak karuan. Ia tidak memedulikan lagi dengan samudra yang sedang pasang. Berkali-kali ombak tiba dan Darsi seakan ditelan alun beserta batu karang. Tapi setelah ombak mudik ke tengah laut, ia muncul tersaruk-saruk di balik karang dengan pakaian awut-awutan nyaris telanjang.

Badai masih mengamuk ketika Darsi sampai di pantai Pasir Putih. Di sekitarnya terdapat pulau-pulau kecil yang membujur dari barat ke timur. Darsi berhenti di pasir putih karena pantai terputus oleh Teluk Karangkobar. Pada ereng bukit yang menjorok ke laut, Darsi tegak. Matanya memandang samudra lepas di bawahnya. Kemudian dengan nekat Darsi meloncat ke air laut saat badai sedang ganas-ganasnya. Tubuh Darsi hanya seperti noktah hitam yang segera lenyap dalam gemuruh ombak, kadang karam lama, lalu muncul lagi. Samudra menggelegak sampai subuh.

Sinar Matahari yang membikin gatal di kulit telah membangunkan Darsi yang terdampar di atas pasir lembut. Ombak pungkasan sedemikian besarnya sehingga tubuh Darsi terlontar jauh ke sebuah pulau indah, dan ombak berikutnya yang datang tidak menjangkau badannya. Juluran lidah gelombang paling hanya menyentuh kedua kakinya yang telanjang. Ia tergeletak di Pantai Widara Payung yang senyap, tempat di mana ia dulu diseret gelombang ketika badai menggila.

Beberapa ekor burung gaok terbang berputar-putar di atas tubuh yang rebah miring tidak bergerak. Burung buruk rupa dan bersikap pengecut itu sedang meneliti mangsanya. Mereka itu hanya berani berhadapan dengan bangkai. Rombongan burung itu kemudian hinggap di atas batu karang yang menonjol keluar dari pasir. Mereka diam seperti patung, cuma matanya melirik raga manusia yang diam seperti mati. Mereka seperti maklum bahwa calon mangsa itu belum binasa. Kesabaran burung goak perlu diacungi jempol. Berjam-jam mereka terus menanti. Sesudah lama menunggu, gerombolan burung pemakan bangkai itu terbang sambil berteriak kesal.

Gaokkkkk.” Teriakan mereka mengandung kecewa. Barangkali mereka membayangkan betapa lezatnya mangsa terbujur kaku di depan mata. Ternyata calon santapan itu bergerak-gerak kemudian bangkit, lalu berlutut di atas pasir sambil menangis. Lantak hati Darsi ketika tersadar, dan mendapatkan dirinya di atas pasir lembut. Ia teringat Dinar, demang tampan itu, bagaimana nasibnya, benar sudah mati? Kembang wijayakusuma sudah di tangan.