Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 173

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 173Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
27 Desember 2020 23:37 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

173

Bukti lain di dekat gua agak ke bawah ada batuan metamorf yang terbentuk karena proses ubahan, yaitu dengan munculnya mineral terang (sekis mika) di samping struktur poliasi akibat suhu dan tekanan. Diduga batu tersebut terbentuk 120 juta tahun silam. Dari dasar samudra batu yang berada pada empat ribu meter di bawah permukaan perlahan-lahan naik hingga sekarang berada di atas busut. 

Ada juga batu besar kehijauan yang ditengarai berasal dari perut bumi di bawah lantai samudra. Batu ultrabasa itu hasil pembekuan magma pada kerak samudra yang berubah saat bersentuhan dengan air laut dan berubah lagi ketika masuk zona tunjaman.

Darsi merangkak keluar gua. Ia masih ngeri membayangkan jika di dalam gua terjerumus ke dalam sumur tanpa batas. Lalu tubuhnya menghunjam di batu-batu runcing. Atau barangkali dikeroyok puluhan ular berbisa. Ia masih saja bergidik mengingatnya.

“Aku tidak boleh putus asa. Pesan Kanjeng Ibu, jika berjodoh pasti bertemu.” bisik Darsi. Ia kemudian berjalan dengan langkah tetap. Ia akan berjuang untuk dapat bertemu kekasihnya—berhasil atau gagal, baginya tidak penting. Lebih dari itu adalah sikap pencariannya. Pada titik ini Darsi tampil sebagai militant yang tidak membuat kalkulasi pragmatis.

“Yang terlalu praktis itulah kegilaan.”

Berjuang istikamah untuk mimpinya—meski mustahil sekalipun—adalah kegilaan yang memberi nilai pada manusia.

Darsi melakukan itu.

 

*******

PURNAMA penuh. Awang-awang resik. Bintang berkerdipan dan bulan taram. Sudah berhari-hari, minggu berganti minggu, bulan ditelan tahun, Darsi berkelana. Suasana hatinya jauh berbeda dengan keadaannya saat tersaruk-saruk menyusuri kemarau dengan tubuh dirajam raja singa dan penyakit jantung. Darsi pada usia paruh baya justru tampil sehat. Mungkin karena setiap hari makan daging dan empedu ular ditambah jamur, daun, serta akar-akaran berkhasiat. Barangkali pula pertemuannya secara ajaib dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Ia mengembara tanpa arah sambil mendekap bunga wijayakusuma. Darsi hanya berhenti jika lapar, dan ketika matanya benar-benar mengantuk. Ia terbiasa makan dan tidur di mana saja. Sampai kemudian seolah ada yang menuntunnya, Darsi kembali ke pantai widara payung Di dekat rerimbunan bakau, Darsi mendirikan pondok darurat. Ia merasa nyaman di tempat sunyi itu berleluasa melakukan semadi berserah diri secara total.

 “Anugerah kadang datang melewati jalan terjal yang tidak kita inginkan. Barokah datang tidak selalu diantar oleh para malaikat berpakaian putih diringi musik merdu dan aroma dedes yang harum. Sebaliknya, keberuntungan dapat sekonyong-konyong muncul pada situasi muram. Kita memang tidak pernah paham rencana Tuhan,” bisik Darsi. “Ini yang seringkali tidak kita sadari. Membuat kita diombang-ambingkan oleh fakta yang sesungguhnya semu. Maka aku tidak boleh ragu melangkah; tidak ngumpet dari kenyataan; meski terkadang aku merasa kuldesak di depan, belakang, samping kanan dan kiriku”.