Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 174

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 174Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
27 Desember 2020 23:57 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

174

Pada malam purnama itu, Darsi sedang khusyuk semadi di pondoknya. Tiba-tiba angin bertiup amat kerasnya sehingga terdengar suaranya melengking tajam. Pepohonan tepi pantai itu diamuk; daun-daun berputaran bahkan ada pohon yang tercerabut berikut akar-akarnya. Pondok darurat diterbangkan lesus, dibawa ke laut dan diombang-ambingkan gelombang. Dari kejauhan ombak sebesar gunung bergerak cepat menuju pantai. Kepalanya putih, badannya panjang seperti naga hitam. Halilintar yang menyambar-nyambar seperti keluar dari mulut naga. Angin datang membawa air hujan. Darsi berdiri dengan tubuh basah kuyup dan rambut awut-awutan.

Tidak ada sedikit pun rasa gentar melihat gelombang dahsyat menghampiri. Darsi malah merasa dielu-elukan, seperti dibuai dan dicumbu. Wajahnya berseri, parasnya bersinar-sinar dan Darsi berdiri tegak menanti datangnya lidah ombak dengan penuh penyerahan, seperti menunggu kekasih yang hendak menjemputnya.

"Tak ada seorang pun tulus mencintaiku. Semua hanya mencintai tubuhku dengan nafsu, bukan cinta, termasuk Kertapati. Yang terjadi selama ini adalah seonggok daging berkelindan dengan seonggok daging. Dunia hanyalah seonggok kotoran kerbau, dan aku belatung yang merayap di atasnya. Tapi laut selatan mencintaiku. Marilah badai, bermainlah.”

Bagaikan seorang tidak waras, Darsi menyambut ganasnya serbuan ombak yang beringas. Semula Darsi duduk, lidah ombak menelannya dan kekuatan lidah ombak yang mencambuk itu lewat di atas kepalanya. Akan tetapi kini lidah ombak itu langsung menghantam tubuhnya yang berdiri. Terdengar lengking tawanya di antara gemuruh samudra. Bulan pun mendadak tertutup awan seperti ketakutan melihat brutalnya ombak. Suasana jadi remang menyeramkan, tapi tidak bagi Darsi. Ia tetap berdiri. Tertawa-tawa. Menari-nari. Berguling-guling di pasir. Dan suatu ketika menungging: pantatnya menunjuk langit, hidungnya menyentuh pasir. Bokongnya menari.

Anehnya, ketika gelombang laut surut Darsi tidak hanyut. Ia duduk timpuh dengan mata terpejam. Mulutnya bergerak-gerak menyebut 10.000 nama sang kekasih dengan tiga suku kata. Apa yang nirmala, apalagi yang maha suci, tidak dapat diringkas dengan satu sebutan karena tak terpermanai, dan juga karena begitu karib, seperti rasa di hati yang tak bisa diabstrakkan dengan sepatah kata. Kata adalah materi. Kata merupakan kombinasi suara dan fantasi, dan di dalamnya dibebankan arti. Darsi ingin membebaskan itu semua. Bagi Darsi, tiga suku kata sudah mewakili ribuan kalimat dan memiliki esensi kognitif.

“Engkaulah yang tak punya awal dan tak punya akhir. Engkaulah yang tak memiliki satu ambisi tapi bukan vanaprashta. Jalan dharma memang tidak mudah dipahami” bisik Darsi. “Di ragaku ini, di himpunan tulang, kulit, otot, daging, darah, lendir, air mata ini….adakah yang baik untuk menikmati hasrat? Dunia melapuk seperti tubuh ngengat. Pohon-pohon bertunas dan kemudian meranggas….’ Sambung Darsi masih dalam bisikan seolah semacam solilokui tentang cinta, harapan, dan sedikit kegerahan. Darsi kembali menyebut asma kekasihnya.