Pecinta Kuliner Bisa Merapat! Ada Menu Olahan Sidat di Mbok Sabar

Pecinta Kuliner Bisa Merapat! Ada Menu Olahan Sidat di Mbok SabarHendro Sarjono, saat membersihkan ikan sidat untuk dimasak di warung makan Mbok Sabar di Jalan Parangtritis, Bakulan, Kalurahan Patalan, Kapanewon Jetis, Bantul, Sabtu (13/2/2021) - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
14 Februari 2021 13:47 WIB Ujang Hasanudin Hiburan Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Berawal dari hobi mengonsumsi sidat yang kaya protein, pemilik warung makan Mbok Sabar di Jalan Parangtritis, Bakulan, Kalurahan Patalan, Kapanewon Jetis, Bantul, Andini, kini menyediakan aneka olahan sidat (Anguilliformes).

“Selain hobi mengkonsumsi sendiri ternyata banyak peminatnya. Sementara belum ada warung makan yang menawarkan olahan sidat di Bantul,” kata Andini, Sabtu (13/2/2021).

Warung makan Mbok Sabar ini sebenarnya menu utamanya adalah sate kambing dan sate sapi. Namun sejak empat tahun terakhir menyediakan menu sidat dengan berbagai olahan, mulai dipepes, sate, tongseng, kicik, rica-rica hingga gulai sidat. “Tidak disangka ternyata banyak peminatnya,” ucap Andini.

Dalam sehari dia bisa menjual hingga 25 porsi olahan sidat dengan porsi sekitar dua ons sidat. Harga per porsi juga cukup terjangkau hanya sekitar Rp25.000 atau hampir sama dengan olahan sate kambing dan sate sapi.

Namun olahan sidat ini tergantung ketersediaan bahan baku karena stoknya terbatas. Tidak Heran Andini bersama suaminya Hendro Sarjono berburu sidat sampai Kulonprogo dan Cilacap, terkadang juga dari Banyuwangi. Sebab sidat yang diinginkannya tidak sembarang sidat.

Dia hanya menerima sidat dari pemancing langsung meski di Banyuwangi sudah ada penakaran sidat. Alasannya daging sidat dari pemancing langsung di sungai dinilai lebih gurih dan kenyal. Sementara dari penakaran dagingnya lebih lembek, “Jadi lebih bagus sidat liar dari pada hasil budidaya, mungkin karena makannya pelet jadi dagingnya lebih lembek,” kata Andini.

Selain itu tidak semua sidat yang dia inginkan. Andini hanya menerima sidat dari pemancing untuk jenis sidat kebo (Anguilla bicolor) yang warnanya coklat kehitaman. Alasannya daging sidat kebo lebih kenyal dan kulitnya lebih empuk. Berbeda dengan sidat macan yang warnanya kulitnya totol-totol dan sidat jaran yang warna kuning dagingnya lebih keras.

Harga bahan baku sidat yang dia beli dihitung per kilogram mulai dari Rp65.000-90.000. Untuk mempertahankan ketersediaan bahan baku sidat, pihaknya terus berkomunikasi dengan pemancing terutama dari Kulonprogo, Cilacap dan Banyuwangi. Bahan baku tersebut terkadang di antar atau dikirim melalui paket.

Hendro Sarjono menambahkan selama menyediakan menu olahan sidat, dia sempat mendapatkan satu ekor sidat berukuran 19 kilogram. “Ini ikan sidat hidup terbesar yang kami olah. Waktu itu saya hargai Rp65.000 per kilogramnya,” kata Hendro.

Eva Diana, salah satu penikmat olahan sidat mengaku baru pertama mengkonsumsi ikan sidat di warung Mbok Sabar. Awalnya dia penasaran dengan daging ikan jenis Anguilliformes tersebut saat melintas di Jalan Parangtritis, “Setlah dicoba ternyata enak. Dagingnya kenyal dan gurih,” ucap Eva.