Agensi BTS Beli Perusahaan Manajer Justin Bieber Rp15 Triliun

Agensi BTS Beli Perusahaan Manajer Justin Bieber Rp15 TriliunSeremoni peluncuran saham perdana Big Hit Entertainment Co. di Bursa Korea, Kamis (15/10 - 2020).
03 April 2021 17:37 WIB Annisa Sulistyo Rini Hiburan Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Perusahaan agensi Korea yang menaunggi grup K-pop BTS rela merogoh kocek US$1,05 miliar atau setara Rp15,2 triliun (asumsi kurs Rp14.500) untuk membeli grup media Amerika Serikat (AS) yang berada di balik karir Justin Bieber dan Ariana Grande.

Big Hit Entertainment, yang saat ini sedang dalam proses berganti nama menjadi HYBE, menginvestasikan dana senilai 1,07 triliun won atau US$950 juta ke unitnya yang berada di AS untuk mengakuisisi Ithaca Holdings LLC. Ithaca saat ini dipimpin oleh Scooter Braun, yang dikenal sebagai manajer Justin Bieber.

Melansir Bisnis.com--jaringan Harianjogja.com dari Bloomberg pada Jumat (2/4/2021), berdasarkan dokumen regulator di Seoul, Big Hit nantinya akan membayar US$1,05 miliar secara total kepada pemegang saham dan pemegang surat utang untuk membeli Ithaca.

Akuisisi Ithaca ini akan menjadi terobosan besar pertama Big Hit ke pasar AS. Sebagai informasi, Braun, yang saat ini menjabat sebagai CEO Ithaca, bakal bergabung dengan jajaran manajemen HYBE, demikin pernyataan resmi perusahaan.

Braun memuji sistem HYBE dan mengatakan bahwa kerja sama tersebut akan menciptakan peluang yang signifikan bagi artis Ithaca baru dan yang sudah ada. Sementara, Chairman dan CEO HYBE Bang Si-Hyuk menyebut kesepakatan antara keduanya itu tidak dapat dihindari.

Sebagai bagian dari transaksi, Carlyle Group akan menjual saham minoritasnya di Ithaca, yang telah dimiliki sejak 2017.

Big Hit membantu mempopulerkan K-pop BTS dengan lagu Dynamite menduduki puncak Billboard Hot 100 pada 2020. BTS adalah artis Asia pertama yang menjadi nomor 1 di tangga musik AS sejak Kyu Sakamoto memegang tempat nomor 1 selama tiga minggu di 1963.

Adapun, industri musik ikut terdampak pandemi Covid-19 karena para artis tidak bisa tour keliling dunia, di mana ini menjadi pendapatan utama perusahaan agensi.

Di sisi lain, layanan streaming yang melejit di masa pandemi telah mendongkrak nilai hak musik dalam beberapa tahun terakhir, didukung juga oleh suku bunga yang rendah dan minat investor Wall Street pada aset alternatif.

Sumber : Bloomberg, Bisnis.com