Profil Bos Netflix yang Dulunya Tukang Rental DVD

Profil Bos Netflix yang Dulunya Tukang Rental DVD Founder Netflix Reed Hastings - Vanity Fair
24 Juli 2021 20:47 WIB Reni Lestari Hiburan Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Layanan streaming Netflix kian populer sejak pandemi Covid-19. Netflix Inc. justru bermula dari layanan sewa DVD melalui pos yang didirikan oleh Reed Hastings bersama Marc Randolph pada 1997 di California, Amerika Serikat.

Menurut catatan Forbes Billionaries, Kamis (22/7/2021) miliarder 60 tahun itu kini memiliki kekayaan senilai US$5,1 miliar. Netflix go public pada 2002 dan Reed Hastings memiliki 1 persen sahamnya. Kini layanan yang menyediakan film dan acara TV itu memiliki lebih dari 183 juta pelanggan secara global.

Sepanjang semester pertama tahun ini, pelanggan Netflix bertambah 5,5 juta dan diperkirakan akan mendulang 3,5 pengguna baru pada kuartal III/2021.

Lahir di Boston, Hastings belajar matematika di Bowdoin College di Brunswick dan lulus dengan gelar sarjana pada 1983. Dia kemudian menerima gelar master ilmu komputer dari Universitas Stanford pada 1988 dan bekerja di beberapa perusahaan teknologi.

Di awal karirnya, Hastings menjadi pengembang perangkat lunak sebelum kemudian mendirikan Pure Software yang dia jual pada 1997 untuk investasi di Netflix.  

Dilansir Bloomberg, Hasting sebenarnya tidak pernah berencana menjalankan Netflix. Dia mengambil uangnya dari Pure dan melakukan serangkaian investasi, Netflix salah satunya. Hastings pernah mengajar matematika di Swaziland setelah lulus kuliah dan berencana untuk mendalami dunia pendidikan.

Dia bergabung dengan Dewan Pendidikan California pada 1996. Marc Randolph menjadi CEO pertama Netflix sebelum Hastings mengambil alih secara penuh.

Selama satu dekade dari 1998 hingga 2007, Netflix beroperasi sebagai layanan rental DVD yang dikirim melalui pos. Pada tahun perusahaan itu didirikan, Hastings menyusun gagasan tentang layanan penyewaan film berbasis langganan dan mulai mengoperasikannya pada 1998.

Pada awalnya, pelanggan diizinkan untuk menyewa setiap DVD untuk jangka waktu tujuh hari, tetapi pada Desember 1999, pelanggan dapat membayar biaya bulanan yang ditetapkan untuk menyewa DVD dalam jumlah tidak terbatas.

Meskipun perusahaan memilih DVD dan mengontrol akun mereka melalui situs Netflix, DVD dikirim dan dikembalikan melalui pos. Setelah DVD dikembalikan, film berikutnya pada daftar akun pelanggan dikirimkan secara otomatis.

Hastings memperluas operasi Netflix melalui kemitraan dengan studio film dan kampanye pemasaran yang agresif, menekankan katalog film indie, dokumenter, dan film lain yang tidak mudah tersedia melalui layanan lain.

Pada Februari 2007, Netflix meluncurkan aplikasi yang memungkinkan pelanggan mengakses film dan acara TV melalui unduhan streaming.

Hastings membuat kesalahan yang jarang terjadi pada 2011 ketika Netflix mengumumkan bahwa mereka akan menaikkan harga sewa dan membagi perusahaan menjadi dua, dengan layanan DVD berganti nama menjadi Qwikster. Dia meremehkan hilangnya pelanggan dan jatuhnya harga saham, tetapi perusahaan mundur dan membatalkan rencana spin-off Qwikster.

Saingan Netflix di bidang teknologi dan media telah mencoba segala macam pendekatan, tetapi Hastings tetap berpegang pada beberapa prinsip umum. Tidak ada iklan, tidak bergantung pada konten yang dibuat pengguna, dan tak menyimpang pada bisnis lain seperti game, musik, atau taman hiburan.

Namun, seiring pertumbuhan perusahaan, prinsip tersebut tidak sepenuhnya tetap dipegang. Baru-baru ini, Netflix berencana mengembangkan video game sebagai daya tarik baru untuk menggaet pelanggan. Perusahaan akan menambahkan game ke layanan streaming dalam 12 bulan ke depan tanpa biaya tambahan.

"Kami memikirkannya sebagai bagian inti dari penawaran berlangganan kami," kata Chief Product Officer Greg Peters.  

Sumber : JIBI/Bisnis.com