Kisah Perang Diponegoro Membangkrutkan Belanda Diangkat di Pewayangan

Kisah Perang Diponegoro Membangkrutkan Belanda Diangkat di PewayanganPementasan wayang Babad Diponegoro bertajuk Tumusing Jongko atau Ramalan Menjadi Kenyataan yang dipentaskan di Ndalem Yudonegaran pada Kamis (11/11/2021) malam. - Ist.
12 November 2021 07:47 WIB Sunartono Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kisah Panglima Perang Jawa, Pangeran Diponegoro menjadi salah satu sejarah yang dikenang sepanjang masa. Diponegoro dengan jiwa nasionalisme berusaha mengusir penjajah dari bumi pertiwi melalui perang yang berlarut-larut hingga lima tahun. Perang ini bahkan membangkrutkan kolonial Belanda.

Perang yang terjadi sekitar 1825 hingga 1830 itu konon menimbulkan korban sekitar 200.000 jiwa orang di Jawa dan15.000 pihak Belanda yang terdiri atas 8.000 orang Eropa dan 7.000 warga asal nusantara. Belanda saat itu mengalami kerugian besar mencapai puluhan juta gulden. Kisah Diponegoro yang membuat repot Belanda ini rupanya telah diramalkan oleh kakek buyutnya yang tak lain adalah Sri Sultan Hamengkubuwono I.

BACA JUGA : HARIAN JOGJA HARI INI: Teladani Jejak sang Pangeran

Kini kisah itu terus berusaha diabadikan lewat cerita wayang Babad Diponegoro bertajuk Tumusing Jongko atau Ramalan Menjadi Kenyataan yang dipentaskan di Ndalem Yudonegaran pada Kamis (11/11/2021) malam.

“Tumusing Jongko artinya ramalan yang menjadi kenyataan. Menceritakan idola Pangeran Diponegoro dalam hal ini Sri Sultan Hamengkubuwono I yang tak lain adalah eyang buyutnya sendiri. Dalam pewayangan itu diceritakan juga perjuangan Pangeran Mangkubumi [HB I] yang meramalkan bahwa Diponegoro akan membuat rusaknya Belanda,” kata Ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro R Rahadi Saptata Abra.

Rahadi menambahkan ramalan dari HB I terhadap Diponegoro yang kemudian menjadi kenyataan dengan adanya kisah Perang Jawa itu juga ditulis oleh sejarawan asal Inggris, Peter Carey dengan judul Kuasa Ramalan. Menurutnya kisah bahwa Diponegoro nyaris membangkrutkan Belanda yang kemudian berdampak pada kemerdekaan bagi Belgia ini banyak ditemukan di berbagai referensi.

“Selama lima tahun peperangan itu hampir membangkrutkan Belanda yang berdampak pada kemerdekaan Belgia, karena Belgia sebelumnya jajahan Belanda. Kalau teladani lagi banyak sekali kisah-kisah Diponegoro baik dari sisi kemampuan strategi berperang maupun politiknya,” ujarnya.

BACA JUGA : HARIAN JOGJA HARI INI : Tongkat Diponegoro Pulang

Ia mengatakan komunitasnya berusaha mensosialisasikan kisah kepahlawanan Diponegoro lewat wayang kulit yang bertepatan. Wayang ini secara khusus menceritakan tentang Pangeran Diponegoro yang diambil dari berbagai referensi utama Babad Diponegoro yang ditulis oleh Diponegoro sendiri, sehingga datanya lebih valid.

“Harapannya lewat wayang ini cerita kepahlawanan mudah dipahami oleh anak muda karena ada interaksi edukasi dan hiburan. Selain secara langsung, juga disiarkan juga lewat media sosial,” katanya.