Menantang! Review Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Menantang! Review Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar TuntasPoster film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas - Palari Films
13 Desember 2021 10:17 WIB Farid Firdaus Hiburan Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Film dari adaptasi novel Eka Kurniawan dengan judul yang sama ini segar lantaran kepiawaian Edwin sebagai sutradara mengemas sebuah novel yang beringas dan menantang ke dalam film bergenre campur aduk, yang boleh dikatakan jarang muncul dalam beberapa tahun terakhir.

Eka yang ikut andil dalam penulisan naskah tampak ingin versi layar lebar tidak sama dengan versi novelnya, tanpa bergeser jauh dari esensi cerita. Alhasil, bagi pembaca setia novel ini, versi film menciptakan sebuah kejutan.  

Perlu diingat film ini untuk 18 tahun ke atas, karena memiliki beberapa adegan eksplisit. Penonton yang membaca novelnya pasti tahu terdapat peristiwa pemerkosaan sangat bejat pada novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Di versi layar lebar, adegan pemerkosaan terhadap Rona Merah (Djenar Maesa Ayu) oleh dua orang militer tetap ada namun tidak seluruhnya detail novel divisualkan. Ini merupakan adegan krusial yang jadi pangkal cerita mengapa Ajo Kawir (Marthino Lio), seorang pemuda asal Bojongsoang bisa memiliki disfungsi ereksi.

Karena tidak bisa ereksi, Ajo Kawir lantas tidak takut mati. Berkelahi adalah bentuk pelariannya, hingga dia bertemu dengan seorang petarung perempuan bernama Iteung (Ladya Cheryl).

Pertemuan pertama kali sepasang pemuda dan pemudi ini dibingkai ciamik lewat adegan berantem. Keduanya berkelahi di lokasi tambang yang lengkap dengan truk-truk pasir berseliweran.

Adegan adu otot ini menjadi spesial bukan berkat polesan efek tiga dimensi, tapi karena yang tampil adalah adegan berantem khas film-film silat low budget jadul, cocok dengan latarbelakang film yang era akhir 80an.

Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas jelas ingin jor-joran dengan tema 80an. Tak hanya busana dan tata rias, kesan otentik sangat terasa karena penggunaan kamera analog dan fim seluloid 16 mm hasil kerja sinematogafer Akiko Ashizawa. Tak ketinggalan, dialog pada film ini juga menggunakan bahasa Indonesia baku.

Lantaran film ini punya nafas romansa, tentu cerita bergulir ke penikahan Ajo Kawir dengan Iteung sampai akhirnya Iteung hamil, dan jelas bukan karena Ajo Kawir, melainkan teman dekat Iteung, Budi Baik (Reza Rahadian). Ajo Kawir pun pergi meninggalkan rumah dengan ledakan amarah.

Selanjutnya, adegan berkelahi akan muncul kembali khsususnya saat Iteung -sesuai dengan judul film- membalas dendam terhadap orang-orang yang membuat Ajo Kawir tidak bisa ereksi. Aksi ini sekaligus penebusan dosa karena ia berselingkuh.

Iteung merupakan representasi dari sosok perempuan yang melawan stigma punya pilihan. Ia memilih memuaskan hasrat seksualnya dengan Budi Baik dan menerima risiko hamil dengan laki-laki yang bukan suaminya. Di sini adegan seks bukan sekedar tempelan. 

Iteung tidak cengeng, ia tetap bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Di sisi lain, Iteung juga punya kompleksitasnya sendiri karena punya trauma pelecehan seksual oleh gurunya yang bernama Pak Toto.

Representasi perempuan lain yang punya pengalaman dengan kekerasan seksual hadir lewat tokoh Jelita (Ratu Felisha). Karakter Jelita bertemu dengan Ajo Kawir yang sudah pensiun dari berkelahi kemudian banting stir menjadi supir truk lintas Sumatra.

Warna film pun berganti menjadi surealis, atau bahkan semi horror karena karakter Jelita (Pandan Wangi) yang misterius. Di sini film seolah mengajak penonton menebak sekaligus berimajinasi terhadap sosok Jelita, apakah ia bentuk lain dari hantu, masa lalu atau manifestasi dendam itu sendiri? Kenapa semua tampak tidak waras?

Sosok Jelita merupakan salah satu karakater yang meski hadir sebentar, tapi sangat mencuri perhatian. Karakter lain yang punya latar belakang misterius adalah Paman Gembul yang diperankan apik oleh aktor kawakan Piet Pagau. Apresiasi juga layak diberikan kepada Christine Hakim yang memerankan Mak Jerot lengkap dengan adegan “mencium perkutut.”

Film berdurasi 115 menit yang mencampur ragam genre dan mengangkat isu sosial-politik, hingga racun maskulinitas ini bisa sangat menohok dan berhubungan dengan keadaan saat ini. 

Ratu Felisha sebagai Jelita dalam film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas/Twitter.
  • Sutradara: Edwin
  • Produser: Meiske Taurisia, Muhammad Zaidy
  • Penulis: Edwin, Eka Kurniawan 
  • Pemeran: Marthino Lio, Ladya Cheryl, Sal Priadi, Reza Rahadian, Ratu Felisha, Kevin Ardilova, Lukman Sardi, Eduwart Manalu, Djenar Maesa Ayu, Kiki Narendra, Piet Pagau, Yudi Ahmad Tajudin, Ayu Laksmi, Christine Hakim, Cecep Arif Rahman, Elly D. Luthan
  • Sinematografer: Akiko Ashizawa
  • Editor:Lee Chatametikool
  • Musik: Dave Lumenta
  • Rumah Produksi: Palari Films/Phoenix Films/E&W Films/Match Factory Productions/Bombero International/Kaninga Picture

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia