Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan, Produk Intelektual Perjalanan Musik Shaggydog

Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan, Produk Intelektual Perjalanan Musik ShaggydogShaggydog bersama penulis Ardhana Pragota dalam peluncuran buku Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan di Prambanan Jazz Cafe, Sleman, Rabu (29/12/2021). - Harian Jogja - Galih Eko Kurniawan
31 Desember 2021 12:07 WIB Galih Eko Kurniawan Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bandiz mengomel ketika hendak manggung di acara lomba voli di Bantul pada 2009. Personel lain tak kalah geram. Acara itu tak sekadar event olahraga. Bendera merah dengan logo banteng hitam bermoncong putih ramai di lokasi acara.

Kehadiran Shaggydog di acara partai politik itu mengkhianati semangat anti-partisan yang mereka kukuhkan. Saat itu Bandiz kecolongan. Dalam setiap tawaran manggung, manajemen selalu mencoret acara yang bermuatan politik praktis, tak peduli seberapa menggiurkan uang yang ditawarkan.

Tak hanya acara kepartaian, Shaggydog pun enggan menghadiri undangan suporter bola. Pernah suatu hari Shaggydog mendapat undangan Bonek Mania di Surabaya, yang terpaksa ditolak secara halus.

Para personel Shaggydog bukan orang yang antipolitik dan tak gandrung terhadap sepak bola. Hanya saja, bagi mereka, politik praktis dan sepak bola Indonesia sama-sama bentuk pengkubuan masyarakat. Satu bendera selalu berkibar di atas kebencian atas bendera yang lain.

Itu cuplikan cerita yang ada dalam buku Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan. Buku biografi Shaggydog yang ditulis Ardhana Pragota, yang momentumnya rilisnya diluncurkan di Prambanan Jazz Cafe, Sleman, Rabu (29/12/2021).

Bagi Gota, sapaan akrab Ardhana Pragota, Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan menjadi buah ketidaksengajaan dari niatan dirinya untuk mewawancarai Heru Wahyono mengenai RUU Permusikan pada 2019, semasa dirinya masih jadi jurnalis di Kumparan.

Di sela-sela wawancara soal RUU Permusikan di studio, Heru langsung menodong Gota untuk menulis cerita tentang Shaggydog. “Tentu saja nervous. Saya yang tidak kenal dekat dengan Shaggydog, seorang penggemar yang melihat Shaggydog dari jauh, ditunjuk untuk menulis soal grup musik itu,” ungkap Gota, Rabu.

Bagi Heru, buku yang diselesaikan Gota merupakan perwujudan dari niatan tertunda Shaggydog sejak enam tahun sebelumnya yang ingin membuat buku, yang berawal dari cetusan ide Angki Prabandono dan Agan Harahap soal buku visual.

Meski yang dihasilkan sekarang ini bukan seperti konsep awal sebuah buku visual, Heru dan tentu saja personel lainnya di Shaggydog tetap mensyukuri. Tetap bangga dengan Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan karena buku itu menjadi catatan perjalanan Shaggydog selama 24 tahun terakhir ini.

“Buku ini jadi sebuah produk intelektual dari Shaggydog karena sebuah grup musik itu tidak melulu bernyanyi. Shaggydog hadir dengan pengalaman yang dibagikan lewat buku. Ilmu yang dicatat. Kelompok musik mesti berpikir ke sana [membuat buku],” ungkap Dodo Hartoko, seniman yang juga sahabat Shaggydog, yang Rabu petang lalu turut hadir dalam peluncuran buku.

Mendapat kesempatan berbicara, bos Prambanan Jazz Cafe, Anas Syahrul Alimi, menegaskan Shaggydog menjadi peristiwa penting dalam dunia musik di Indonesia. “Setahun lagi di usia 25, bakal siapkan spesial konser untuk Shaggydog,” tuturnya disambut tepukan tangan tamu-tamu undangan.

Richad Bernado, gitaris Shaggydog, mengaku perayaan usia ke-24 grup musiknya itu memang hanya menerbitkan buku. Tidak dijual dalam sebuah boxset yang berisi album baru disertai buku Angkat Sekali Lagi Gelasmu Kawan dan pernik-pernik lainnya. “Kami [Shaggydog] inginnya orang fokus membaca isi cerita di buku. Tidak suruh mendengarkan sambil baca atau lainnya,” ucapnya.

Selepas mahgrib, enam personel Shaggydog naik ke panggung miniamphitheater Prambanan Jazz Cafe. Dengan konsep akustik, mereka menyuguhi tamu-tamu undangan dengan lagu-lagu ska. “Di Sayidan....di jalanan....angkat sekali lagi gelasmu kawan. Di Sayidan...di jalanan...tuangkan air kedamaian....