Advertisement

Apresiasi Tinggi untuk Sri Pramono dalam Pameran Survival Energy

Galih Eko Kurniawan
Rabu, 01 Juni 2022 - 19:37 WIB
Galih Eko Kurniawan
Apresiasi Tinggi untuk Sri Pramono dalam Pameran Survival Energy Seniman Sri Pramono (kiri) dan Stanislaus Sunardi dalam pembukaan pameran tunggal Sri Pramono bertajuk Survival Energy di Mayinart Gallery, Sonosewu Baru, Bantul, Rabu (1/6/2022). - Harian Jogja - Galih Eko Kurniawan

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Apresiasi tinggi diberikan kurator maupun pengunjung kepada seniman Sri Pramono yang menghadirkan puluhan karya dalam pameran tunggal bertajuk Survival Energy di Mayinart Gallery, Bantul.

Pameran tunggal itu secara resmi dibuka Stanislaus Sunardi di Mayinart Gallery, Rabu (1/6/2022). Pameran ini terbuka untuk umum dari 1 Juni sampai 10 Juni 2022 di MayinArt Gallery dengan jam buka dari pukul 10.00 WIB sampai 18.00 WIB. Rencananya pameran ditutup dengan bincang seniman pada Jumat (10/6/2022).

Dalam pembukaannya, Sunardi menyatakan Sri Pramono berhasil mewujudkan tema yang diangkat dalam pemaran ke dalam karya-karya seni lukis maupun intalasi. Hal itu tak terlepas dari kemampuan Pramono menuangkan ide-idenya soal alam maupun sosial ke dalam karya.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

“Lukisan abstrak yang dia [Pramono] buat mempersilakan penikmatnya mengartikan sendiri meski dalam karya itu merupakan curahan hati dia sebagai sang senimannya,” tutur Sunarti, Rabu.

Kurator Heri Kris menilai sejak mengenal Pramono pada kisaran 2015, seniman asal Kulonprogo itu kini kian berkembang. Karya-karya yang ditampilkan dalam Survival Energy merupakan ekspresi Pramono yang selama ini bergelut di alam bebas, terutama kepecintaalaman.

“Tumpang tindih warna yang disajikan sangat menarik. Tema Survival Energy sangat tepat disajikan dengan harapan karya-karya Pramono bisa memberikan energi baru bagi orang yang melihat karyanya maupun bagi Pramono sendiri agar terus berkembang,” ucapnya.

Ditemui di sela-sela acara, Pramono mengaku karya berjudul Passing Through The Tough Part yang sengaja dia tampilkan namun tidak untuk dijual, merupakan hasil lukisnya yang paling berkesan.

“Itu menceritakan seorang teman yang meninggal dalam sebuah kegiatan panjat tebing di Parangendog pada 2010. Tragedi yang tak bisa saya hapus dari ingatan. Sampai sekarang, saya suka ke Parangendog untuk mengenang kepergian rekan saya itu,” kata Pramono.

Seniman Klowor Waldiyono, yang sore tadi hadir dalam pembukaan, mengaku sangat menikmati karya Pramono, terutama yang berjudul Grassroots. “Terlepas dari apa yang jadi nilai spiritual Pramono sebagai senimannya, bagi saya, ini [Grassroots] karya yang eksotis. Sangat menarik,” tuturnya.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

alt

Teken MoU dengan 10 Mitra Lintas Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia, Politeknik LPP Yogyakarta Perkuat Tridarma Perguruan Tinggi

Jogja
| Kamis, 29 September 2022, 23:47 WIB

Advertisement

alt

Kini Jadi Korban KDRT, Lesty Kejora Pernah Diingatkan Soal Rizky Billar

Hiburan
| Kamis, 29 September 2022, 21:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement