Hari Sumpah Pemuda, 10.000 Warga Magelang Akan Menari Soreng Serentak

Hari Sumpah Pemuda, 10.000 Warga Magelang Akan Menari Soreng SerentakTim Soreng Magelang saat pentas di Parade Seni dan Budaya Kota Mungkid Tahun 2019, Senin (19/8/2019). - Ist/Dok Humas
16 Oktober 2019 15:07 WIB Nina Atmasari Hiburan Share :

Harianjogja.com, MAGELANG-- Tari Soreng dari Kabupaten Magelang bakal kembali menorehkan prestasi. Setelah sebelumnya sukses tampil di Istana Negara untuk memperingati HUT RI ke-74, kini mereka akan tampil untuk memecahkan rekor Muri pada Hari Sumpah Pemuda.

Penampilan akbar ini akan diselenggarakan di sepanjang jalan Soekarno Hatta, Kota Mungkid, pada tanggal 28 Oktober 2019 mendatang.

Sementara, Ketua Harian Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Kabupaten Magelang, Mul Budi Santoso, menjelaskan pihaknya menargetkan kegiatan ini akan diikuti 10.000 peserta. "Antusiasme masyarakat Kabupaten Magelang luar biasa, mereka pasti ingin ikut berpartisipasi," katanya, Rabu (16/10/2019).

Peserta berasal dari berbagai pelosok daerah ini. Peserta tidak hanya dari kalangan seniman, namun juga siswa sekolah, mahasiswa dan masyarakat umum. Mereka berlatih secara terpisah di daerah masing-masing namun dalam gerakan yang sama. Panitia membagi peserta per desa dan kecamatan.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Plt Sekretaris Disdikbud Kabupaten Magelang, Slamet Ahmad Husein, mengatakan bahwa, kegiatan tersebut sesuai arahan Bupati Magelang, yakni dalam rangka melestarikan kebudayaan khas peninggalan nenek moyang yang telah berkembang di antara masyarakat, khususnya di lereng Gunung Merbabu dan Gunung Andong.

"Tentunya dalam rangka menegaskan kembali cita-cita dan pergerakan kemerdekaan Indonesia melalui ikrar Sumpah Pemuda," kata, Ahmad Husein.

Untuk menindaklanjuti tentang arahan Bupati tersebut, pihaknya pun telah berkoordinasi dengan pihak Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai permohonan pendaftaran pencatatan rekor penari soreng terbanyak.

Untuk diketahui, Tari Soreng sendiri merupakan kesenian asli masyarakat Jawa yang merupakan pengejawantahan babad atau cerita rakyat yang diadopsi dari kisah Haryo Penangsang (digambarkan sebagai seorang yang gagah berani yang memiliki banyak prajurit).

Biasanya, pentas kesenian tari soreng tersebut sering dipentaskan dalam adat atau hajatan besar. Gerakkannya pun diambil dari tarian keprajuritan yang dilakukan secara massal.