Hari Ini Dibuka, Biennale Jogja Equator 2019 Membaca Kembali Dunia

Hari Ini Dibuka, Biennale Jogja Equator 2019 Membaca Kembali DuniaSalah satu instalasi seni yang dipamerkan dalam Biennale Jogja Equator 2019. - Ist/ Dok panitia
20 Oktober 2019 05:17 WIB Abdul Hamied Razak Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Memasuki edisi kelima tahun ini, Biennale Jogja Equator 2019 menyajikan beragam karya menarik para seniman. Sejak 2011 lalu, Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) konsisten meluncurkan proyek seni yang fokus pada wilayah khatulistiwa.

Kurator Biennale Jogja XV Akiq AW mengatakan YBY menggunakan khatulistiwa sebagai cara pandang baru serta membuka diri untuk menghadapi kemapanan dan kebiasaan-kebiasaannya. "Khatulistiwa adalah titik awal dan platform bersama untuk membaca kembali dunia," katanya saat jumpa pers di TBY, Sabtu (19/10/2019).

Tahun ini, katanya, YBY bekerja bersama 52 seniman dan kelompok, dari berbagai wilayah dan kota di Asia Tenggara. Kegiatan tersebut digelar sejak 20 Oktober hingga 30 November. Event pameran utama Biennale Jogja XV Equator #5 berlokasi di berbagai tempat di Jogja, mulai di Jogja Nasional Museum, Taman Budaya Yogyakarta, Kampung Jogoyudan, Ketandan 17, dan Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri.

Kurator Arham Rahman mengatakan para kurator memilih tajuk Do We Live in the Same Playground? Ini dilakukan untuk merangkum pembacaan YBY dan seniman-seniman yang terlibat di dalam perhelatan Biennale Jogja Equator 5. Ini khususnya, terkait sejumlah persoalan pinggiran yang berlangsung di kawasan Asia Tenggara.

"Terutama yang beririsan dengan masalah identitas [gender, ras, dan agama], narasi kecil, konflik sosial-politik, perburuhan, lingkungan, atau yang lebih spesifik, praktik kesenian," paparnya.

Mereka fokus pada gagasan tentang pinggiran yang tidak sekedar mengacu pada ide tentang tempat, namun lebih mengangkat tentang subyek atau komunitas yang hidup di dalamnya. Subyek yang tidak mendapat manfaat dari dan menderita karena struktur sosial ekonomi atau politik. "Ini akan menyentuh masalah-masalah relasi kuasa, di mana subyek di pinggiran dipaksa untuk menghadapi situasi hegemoni kekuasaan di manapun mereka berada," katanya.

Kurator lainnya, Penwadee Nophaket Manont dari Thailand mengatakan tema yang diangkat sebagai sebuah pendekatan, gagasan tentang pinggiran dapat diperluas ke berbagai permasalahan hidup sehari-hari. Ia mencontohkan kesenjangan kesetaraan gender, pelanggaran hak asasi manusia, masalah buruh dan kelas pekerja, khususnya terkait pekerja migran, diskriminasi berbasis ras atau agama, dan lainnya.

Beberapa seniman, katanya, menampilkan karya atau proyek untuk merespon ketegangan antara pusat dan sekitarnya. Mereka mencoba menawarkan sebuah posisi alternatif dan subversif, untuk menyoroti suara dari pinggiran. Misalnya, Manifesto Konkhaem menduduki sebuah ruang yang diabaikan di Kota Jogja untuk menciptakan platform bagi berbagai media. "Ini untuk memberi panggung bagi mereka yang dieksploitasi, dilupakan dan dibuang dari pembangunan arus utama yang berita," katanya.

Selain itu, ada Muslimah Collective dari Thailand yang mengambil langkah tidak biasa di antara lingkup kesetaraan. Mereka biasanya membingkai hijab mereka dalam peran kewanitaan. Kelima anggota Muslimah Collective menampilkan ragam bentuk karya yang fokus pada cara hidup muslim di Pattani.

Sementara itu seniman Moelyono menampilkan karyanya yang pertama kali diinisiasi pada 1994, sebuah persembahan untuk buruh perempuan yang dibunuh pada periode tersebut, Marsinah.

Dalam Biennale Jogja 2019 ini, YBY juga memperkenalkan program Paviliun yang disebut dengan Bilik sebagai platform untuk bertemu dengan negara atau wilayah lain yang memiliki relasi erat dengan Asia Tenggara. Dua bilik menempati ruang pamer di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri.