NGAYOGJAZZ 2019: Teringat Djaduk, Idang Terisak di Panggung

NGAYOGJAZZ 2019: Teringat Djaduk, Idang Terisak di PanggungMusisi Frau saat menyanyikan lagi ciptaan mendiang Djaduk Ferianto di panggung Empyak Ngayogjazz 2019, di Dusun Kwagon, Desa Sidorejo, Godean, Sleman, Sabtu (16/11/2019) malam. - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
17 November 2019 07:27 WIB Salsabila Annisa Azmi Hiburan Share :

Kemeriahan perhelatan Ngayogjazz Satu Nusa Satu Jazz 2019 di Dusun Kwagon, Sidorejo, Godean tetap berjalan setelah seluruh keluarga dan kerabat berduka karena kepergian pencetusnya, Djaduk Ferianto. Di panggung Umpak, penonton dikejutkan dengan konser Tribute to Djaduk yang benar-benar menyentuh hati dibawakan oleh musikus jaz ternama, Idang Rasjidi. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi. 

Sorot lampu panggung berwarna merah muda menyinari sosok musikus jaz legendaris, Idang Rasjidi yang duduk di panggung Umpak Ngayogjazz Satu Nusa Satu Jazz 2019. Aransemen musik blues segera mengalun mengiringi larik pertama lirik lagu Mau Dibawa ke Mana milik Armada Band yang dinyanyikan oleh Idang. Seluruh penonton ikut bernyanyi dan bergoyang pelan mengikuti irama musik.

Saat langit mulai gelap dan improvisasi alunan musik blues dari lagu pop itu masih mengalun puluhan penonton yang mengerubuti panggung dikejutkan oleh satu fenomena. Segera saja mereka ramai-ramai mengangkat ponsel pintar mereka untuk merekam Idang yang tiba-tiba terdiam sambil terisak di tengah panggung. Idang terlihat benar-benar larut dalam kesedihannya, mengabaikan aransemen musik yang masih bermain mengisi kekosongan panggung.

"Ah, jancuk kowe, Duk!" katanya di atas panggung, masih menunduk dan menahan tangis. Seruan itu ditujukan pada Djaduk Ferianto, sosok seniman hebat pendiri Ngayogjazz yang belum lama ini berpulang. Seperti sebuah bom, tiba-tiba ingatannya tentang sahabat karibnya itu meledak. Membuat dia membisu cukup lama di atas panggung ditemani tempo halus drum dan petikan gitar yang terus berimprovisasi.

Tak ingin membiarkan penonton menunggu dan menebak-nebak, istri mendiang Djaduk, Petra, muncul dari belakang panggung dengan blus biru muda dan rambutnya yang dikuncir kuda. Tergopoh-gopoh, Petra langsung meminta mikrofon yang ada di tangan Idang dan melanjutkan lirik lagu Mau Dibawa ke Mana yang sempat terhenti. Suara Petra begitu merdu untuk penampilan yang begitu tiba-tiba itu. Wajahnya pun dia paksakan tersenyum, meski matanya masih menunjukkan gurat kesedihan karena kepergian sang suami untuk selama-lamanya. 

"Pet, ini untukmu dan putra-putrimu, dari Djaduk. Tidak ada yang memisahkan kita dengan Djaduk di dunia ini. Yang dimakamkan hanya baju dan raganya saja. Dia tetap ada bersama kita sampai kapan pun. Bahkan, sekarang Djaduk ada di antara kita, sedang bermain perkusi. Terima kasih buat penampilannya hari ini [tadi malam] teman-teman dan juga Djaduk," kata Idang di akhir lagu sambil menepuk bahu Petra. Sore itu dia menganggap Djaduk ikut tampil bersama mereka di atas panggung Umpak.

Kontras dengan irama musik blues yang baru saja usai, suasana duka menyelimuti area belakang panggung Umpak. Begitu turun dari panggung, mata seluruh personel Idang Rasjidi Sings Jazz dan juga gitaris jaz kawakan Oele Pattiselano yang tampil sore itu langsung sayu dan menerawang kosong.

Mereka langsung masuk ke dalam rumah salah satu warga Dusun Kwagon, Sidorejo, Godean yang bercat hijau muda. Terlihat di dalam rumah bertegel itu, Idang duduk di kursi plastik sambil memangku tabung oxycan yang baru saja dia gunakan untuk menstabilkan napasnya akibat menangis di atas panggung.

Dengan bersimbah keringat dan sisa air mata di ujung mata keriputnya, Idang mulai menuturkan bahwa seharusnya sore itu menjadi penampilan pertamanya bersama Djaduk setelah sekian lama tak berjumpa. Sejak setahun lalu, Djaduk sudah bertekad kuat membawa Idang tampil di Ngayogjazz membawakan lagu Mau Dibawa ke Mana milik Armada Band.

"Katanya, 'mas, nyawa Ngayogjazz itu ada di Mas Idang, pokoke mas harus tampil dengan lagu ini' saya tanya kenapa, dia jawab 'lagu ini lagu pop asli, susah mengaransemennya jadi jaz. Tetapi kalau di tangan Mas Idang, saya yakin, pasti lagunya akan bertransformasi jadi jaz berkualitas' ada-ada saja Djaduk ini," kata Idang sambil geleng-geleng kepala, matanya menerawang mengenang momen setahun lalu itu.

Selama menyusun aransemen lagu bersama Djaduk, tak pernah ada sedikit pun selisih paham. Seperti biasa, musisi jaz yang diberi julukan Musisi Jaz Proletar oleh Djaduk ini, selalu merasa satu hati dan satu jalan pikiran.

Di tengah ceritanya, sudut mata Idang mulai berair lagi. Dia jujur mengatakan ada satu kenangan yang menurutnya paling indah soal Djaduk, tiba-tiba melintas di benaknya saat dia tampil di panggung Umpak sore itu. Kenangan itu membuat dia benar-benar emosional, hingga tak mampu melanjutkan lirik lagu.

"Dulu sekali saya bilang 'Duk, aku pengin musik jaz bisa tampil di kampung, piye kira-kira menurutmu?' tiba-tiba Djaduk mewujudkannya melalui Ngayogjazz. Kemudian sebelum dia meninggal itu, dia bilang, 'Mas, saya banyak belajar dari mas Idang. Makasih banyak dan maafkan saya, Mas,' loh, kenapa kamu ini? Saya bilang begitu," kata Idang.

Menurut Idang, Ngayogjazz adalah salah satu bukti bahwa Djaduk Ferianto masih hidup di sekitar sahabat, keluarga, guru, murid dan penggemarnya meski kini raganya telah terkubur. Seluruh musisi yang tampil pada Ngayogjazz adalah persembahan Djaduk untuk orang-orang yang dia cintai. Sebaliknya, penampilan terbaik para musisi jaz merupakan persembahan mereka terhadap Djaduk. Sebagai murid, sebagai sahabat, juga sebagai keluarga.

"Kelebihan Djaduk sebagai seorang seniman, kalian mau tahu apa? Djaduk adalah Djaduk, dia tidak pernah menjadi orang lain. Itu lah yang membuat saya kagum, dan saya akan meneruskan pesannya, bahwa saya adalah orang tua untuk Ngayogjazz," kata Idang.

Museum Jenaka

Idang mengakui panitia tak berencana mengadakan konser khusus Tribute to Djaduk, museum Jenaka hasil pemikiran Djaduk mengenang musisi-musisi jaz yang telah tiada dengan gaya jenakanya pun sudah direncanakan saat Djaduk masih hidup.

Dia menganggap, penampilan panggungnya bersama Petra yang sungguh emosional itu merupakan Tribute to Djaduk yang sebenar-benarnya dan setulus-tulusnya meskipun dilakukan tanpa perencanaan apapun. 

Di belakang Idang, istri Djaduk, Petra menimpali cerita Idang. Ketika tampil dalam panggung Umpak, dia mengaku merasakan kehadiran mendiang suaminya. Petra merasakan kedekatan batin Idang yang mengenal Djaduk sejak Djaduk duduk di SMA itu, memanggil Djaduk turut tampil di atas panggung. 

"Peristiwa tadi benar-benar mendadak, saya tidak berlatih menyanyi. Hanya saja saya harus membantu Mas Idang menyelesaikan gejolak emosinya di panggung. Tetapi peristiwa ini benar-benar menguatkan saya, karena saya merasakan Mas Djaduk ada di sekeliling kami," kata Petra.