Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 001

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 001Ilustrasi - Harian Jogja/Hengki Irawan
23 Juni 2020 11:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Cakra Manggilingan

Respati Cemengan. Di angkasa rembulan sedang bersukacita merayakan purnamanya. Malam itu suasana di pelosok desa berbeda dengan hari biasa. Sejak senja, rata-rata kawula di kademangan cukup raharja itu seolah jeri membuka pintu. Mereka khusyuk membakar dupa, dan mendaras doa di sanggar patapan.

Asap wangi menguar dari atap rumah, berkumpul di awang-awang, bermain dengan restan sinar rembulan yang temaram, menebarkan aroma magis. Malam jumat kliwon semenjak dulu diyakini sebagai hari kemuliaan bagi segenap jin setan iblis siluman bekasakan. Manusia yang bergiat harus rehat kalau ingin selamat dunia akhirat seluruh brayat.

Sudah menjadi keyakinan banal, di malam sukra kasih, apalagi kala lepas surup, seluruh dedemit gentayangan di seantero permukaan bumi, untuk mencari korban manusia yang ringkih imannya dan rapuh batinnya.

Mereka, parade roh halus ini (konon) muncul dari pohon besar; dari gua-gua angker; berduyun-duyun memasuki dusun dengan suara gemuruh,baur dengan alunan jangkerik, walang kekek, tarsius, kelelawar, kiwi, kukang dan burung hantu.

Suara-suara mistis ini melewati rumah-rumah yang tertutup rapat, kadang diseling kepak sayap burung nokturnal. Atau jeritan panjang serigala yang ngelangut. Juga cericit galago, lemur, dan bangkong serasah. Orang pun sulit membedakan antara suara burung kulik dengan ratapan kuntilanak kehilangan anak yang lagi mencari penggantinya di antara orok-orok manusia yang baru lahir.

Terkadang, jika angin sejenak menghentikan dersiknya, suara- suara itu pun lenyap. Di titik inilah (konon) roh jahat menerkam korbannya.

Dan pada waktu senyap mencekam, bulan taram bersekutu menyembunyikan sebagian paras keemasannya di balik awan hitam berbentuk Batara Kala, di waktu angin ngaso bertiup dan sebagian warga meringkus berkerudung sarung di atas tempat tidur; ibu-ibu mendekap anaknya, para suami memeluk istrinya; pada saat itulah terdengar gedoran cukup keras di pintu gerbang padepokan Sangga Wihaya yang diampu Begawan Sempani.

“Siapa di luar?”

“Penggawa Tembayat,” jawab suara besar sember.

Sejenak hening. Kemudian terdengar derit lawang regol.

“Silakan masuk,” sapa pengampu padepokan itu dengan sareh.

“Terima kasih, panembahan.”

Lima orang bertubuh kekar, dan kepala mereka memakai ikat yang ujungnya meruncing ke atas sehingga bayangan mereka seperti setan bertanduk, memasuki pringgitan.

“Malam jelang subuh. Saya lihat kalian melakukan perjalanan cukup jauh. Rasanya

agak kurang wigena kalau tidak ngaturi minuman,” kata Begawan Sempani sambil beranjak ke dalam.

“Tidak perlu repot, panembahan,” ujar salah satu dari lima prajurit gempal itu.

“Cekak aos saja. Ki Demang Suradipa mengutus kami kemari,” timpal lainnya.

“Sepertinya ada yang wigati?”

“Benar, panembahan.”

“Apa itu kalau boleh tahu?”

“Ki Suradipa menghendaki panembahan malam ini juga menghadap.”

“Hmmm. Selarut ini?”

“Benar, panembahan. Ki demang sudah menunggu.”

“Baiklah.”

 

(Bersambung)