Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 002

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 002Sandyakala Ratu Malang. - Harian Jogja/Hengki Irawan
26 Juni 2020 13:07 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Begawan Sempani menyuruh lima orang prajurit itu menanti sebentar sambil menikmati air teh panas dengan camilan gula kelapa, jagung rebus, gembili dan kimpul.

Mereka selain penat di perjalanan, juga lapar. Maka hidangan sederhana ini disantap beramai- ramai dengan rahap.

“Silakan mengaso sebentar. Saya berkemas-kemas,” ujar Begawan Sempani.

“Baik, panembahan.”

Pengasuh padepokan itu berjalan ke senthong kanan, masuk ke sanggar pamujan, tempat ia dan putranya melakukan semadi. Sang Begawan yang sudah renta dengan jenggot dan rambut memutih itu mencuci kaki dan tangan, kemudian masuk ke dalam surau.

Sebagaimana biasa, ia selalu melantunkan puja-puji kepada Yang Maha Tunggal, khusus malam itu sekalian memohon kekuatan untuk menghadapi peristiwa yang akan dialaminya.

Ada semacam duta panglawung, firasat yang kurang mengenakkan, entah apa bentuknya.

BACA JUGA: Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 001

Tidak lama berselang, dari luar tampak seorang pemuda berjalan tergesa masuk gapura. Dengan mata tajam sekilas pemuda itu memandang lima orang punggawa yang masih menikmati andrawina di gandok depan, lalu tanpa memedulikan mereka ia langsung masuk senthong kiri. Para prajurit itu terpana, tidak mereka sangka di tempat sunyi ini ada seorang anak muda tampan. Tubuhnya yang tak berbaju kelihatan kokoh dengan kulit halus nemugiring, sepasang lengannya tampak kuat, dan wajahnya menyiarkan aura wibawa tampak bersinar di jelang wayah sepi wong.

“Hm. Elok benar anak muda itu,” seru seorang di antara para prajurit yang berdahi

lebar.

“Mungkin cantrik padepokan,” timpal prajurit kedua sambil mengunyah jagung rebus.

Sementara itu, teruna tampan yang menjadi perbincangan langsung menuju bilik sanggar pratapan. Ia menanggalkan busar yang semula diselendangkan di bahu kanannya dan melepaskan pundi-pundi anak panah yang bergantung di punggung. Dengan tergesa ia mencuci kaki, kedua tangan, telinga dan wajah, lalu menaiki tangga surau.

Dilihatnya Begawan Sempani bersila dengan wajah riyom. Untuk sejenak pemuda itu memandangi kepala sang Begawan yang penuh uban dengan takjub sekaligus trenyuh.

Memang sepintas melihat pendeta tua itu khusyuk dalam tafakur akan timbul rasa hormat.

Meski tubuhnya kurus namun sama sekali tidak ada keriput, bahkan wajahnya kemerahan seperti bayi. Napasnya lembut bebas lepas tanpa beban menunjukkan pendeta itu manusia permana wasis sidik paningal.

Lengan kanannya memeluk pusar, dan lengan kiri ditumpangkan di atas bahu kanan.

Kedua kaki bersilang dengan kedua telapak terlentang di atas paha. Bibirnya mengarah senyum, mata separuh terkatup dengan pandangan tertuju ke hidung. Dalam jarak dua meter terasa hawa hangat keluar dari tubuhnya, dan bagi seorang terlatih macam murid begawan itu akan kelihatan sinar biru kehijauan berkerdipan di atas kepalanya.

Pemuda tampan itu menyembah taklim dan mendadak Begawan Sempani membuka mata seolah sungkem muridnya menariknya kembali dari alam awang-uwung. Sejenak sang begawan memandangi muridnya penuh kasih.