Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 007

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 007Sandyakala Ratu Malang - Hengki Irawan
04 Juli 2020 22:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

DENGAN mengetrapkan ajian Bayu Bajra, Begawan Sempani mendahului para prajurit berkuda, dan sebelum surya tenggelam ia telah sampai di kademangan. Para penjaga regol yang telah mendengar bahwa Ki Demang mengirim utusan untuk mengundang seorang tua yang sakti, langsung bersikap hormat begitu sang begawan menyebut namanya.

“Silakan, Panembahan,” ujar mereka serempak.

Tergopoh-gopoh gruwalan Ki Demang menyongsong kedatangan Begawan Sempani. Ia langsung memerintahkan Pardal untuk memanggil semua hulubalang serta penasihatnya. Malam itu diadakan pertemuan tertutup di balairung. Setelah semua lengkap, Begawan Sempani dengan hormat dipersilakan masuk ke ruang sidang.

Dengan wajah sejuk, Begawan Sempani duduk berhadapan dengan Demang Ki Suradipa, yang mengenakan pakaian dinas, duduk di dampar berhias gading hadiah spesial dari mertuanya yaitu Panembahan Senopati. Sebagai tamu agung, Begawan Sempani disediakan bangku khusus.

“Maaf, Begawan Sempani, yang saya muliakan. Saya mengundang andika, tak lain untuk menjelaskan tafsir mimpi saya yang para paman cendekiawan di sini menyebutnya impen dara dasih. Kami berharap andika menerangkan dengan gamblang supaya hati saya tenang,” kata Ki Suradipa dengan sikap hormat.

“Sejak mimpi buruk itu, hati saya gulana, makan tidak selera dan tidur tidak nyenyak. Ini sangat mengganggu ketenangan saya dalam bekerja. Mohon andika sudi membabarkan.”

Sejak awal Begawan Sempani mendengarkan dengan tenang penuh kesabaran. Tidak satu kali pun ia memotong pembicaraan. Setelah demang itu selesai berbicara, dan sejenak di ruangan itu suasana hening, barulah Begawan Sempani mengangguk-angguk sambil menggunakan tangan kanannya meraba jenggotnya yang putih keperakan.

BACA JUGA: Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 006

“Nakmas Demang, memang segala sesuatu sudah jadi pepesthen oleh sang hyang agung di mana kita sebagai kawula-Nya hanya bisa wiradat. Betapapun waskitanya seseorang, namun ia bukan penentu. Jika dipikir sungguh mengherankan hanya untuk mbabar impen dara dasih, saya yang bodoh dan tidak berguna ini dipanggil kemari. Apakah dengan demikian saya yang dungu ini tidak dianggap meremehkan sahabat-sahabat cendekiawan di Tembayat?”

“Saya juga heran, paman Begawan. Para paman sidik paningal di Tembayat kali ini entah kenapa menjadi kurang waskita. Mereka tidak mampu menjabarkan mimpi saya.”

“Hmmmm. Inipun pratandha dari sang akarya jagat. Baiklah, anakmas, paman sedapat mungkin menguraikan makna mimpi itu. Anakmas melihat watu geni yang berubah menjadi api berkobar-kobar sebagai segara geni, lautan api, yang meluluhlantakkan kademangan ini? Mimpi tersebut menyiratkan sesuatu yang buruk, dan anakmas harus siap menerima penjelasan paman,” sejenak Begawan Sempani menarik napas panjang sambil merenung.

“Pada awalnya, bahaya yang mengancam Tembayat tidak kentara dan anakmas memang kurang menghiraukan.Watu geni itu lambang adanya siluman di dalam kademangan ini. Siluman yang saya maksud berbentuk manusia, cantik jelita, bersuara merdu,” lanjutnya.

Bukan saja Demang Ki Suradipa yang pucat iram mendengar penjelasan ini, bahkan para waskita, segenap hulubalang dan penasihat demang, memandang ngungun.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang: Bagian 008