Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 008

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 008Sandyakala Ratu Malang - Hengki Irawan
04 Juli 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Tidak hanya terkejut akan ancaman siluman, tapi semua kaget menampaki keberanian Begawan Sempani meramalkan masa depan kademangan dengan sangat lugas. Dan benar. Ki Suradipa teramat murka, namun ia masih kuwawa menekan perasaannya meski terengah-engah.

“Jika demikian halnya, wiradat apakah yang niscaya saya lakukan paman begawan? Saya berharap kademangan Tembayat bisa kembali aman tenteram.”

“Manusia memang diwajibkan ikhtiar, Anakmas. Namun Sang Hyang Wisesa yang akan menentukan. Betapapun, jika anakmas sungguh-sungguh berwiradat memang belum terlambat. Satu-satunya jalan, watu geni harus dibuang sejauh mungkin dari kademangan ini,” ujar pendeta pinilih itu dengan sareh.

“Ada dua jenama karma, selain dalam pandangan agama, juga hukum sebab akibat. Sang akarya jagat tidak akan menjatuhkan laknat tanpa sebab, sebagaimana tirta telaga tidak akan bergejolak tanpa ada yang menyentuhnya. Paman cukup menjelaskan sampai di sini. Tentang kesalahan-kesalahan yang anakmas lakukan, tentu hanya anakmas sendiri yang tahu.”

“Paman …” teriak Ki Suradipa dengan wajah merah saga. Demang itu marah sekaligus berpikir keras, siapa siluman berupa manusia cantik bersuara merdu di dalam kademangan ini. 

“Paman Begawan yang mumpuni, jangan kepalang tanggung menolongku. Ayo paman, sebutkan siapa watu geni itu? Saya akan melenyapkan dari muka bumi ini sekarang juga!”

Agak lama Begawan Sempani berdiam diri, masih dengan wajah sareh. Suasana di ruang sidang sangat menegangkan. Setiap telinga dipasang untuk mendengar jawaban Begawan sakti:

“Watu geni indah dilihat, dan setiap pria normal mengharapkan. Dalam mimpi anakmas itu, watu geni adalah seorang wanita cantik gandes luwes yang saat ini merupakan satu-satunya perempuan yang paling anakmas sayangi.”

Nyenyat sesaat. Detak jantung pun nyaris tak terdengar. Tapi, dalam kenyenyatan itu tiba tiba meledaklah gemuruh murka di dalam dada bidang Ki Suradipa.

“Paman, kau maksudkan watu geni itu Nimas Lembah Manah?”

Begawan Sempani membungkukkan badan.

“Ada dua jenis kesabaran. Pertama, sabar atas sesuatu yang sungguh tidak kita inginkan. Kedua, sabar menahan diri dari keinginan. Sanggupkah anakmas dengan dua kesabaran itu?”

Ki Suradipa mengangguk.

“Paman maksudkan watu geni adalah Nimas Lembah?” ulang Ki Suradipa.

 “Bukan aku yang menuduhnya, anakmas. Aku sekadar mbabar mimpi.”

BACA JUGA: Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 007

Meledaklah suara tertawa menyeramkan dari mulut Ki Suradipa. Gelak itu sengaja dibuat membahana tidak lain untuk menutupi rasa giris dan miris.

“Paman begawan, engkau culas. Engkau lancung. Dengan sangat keji engkau menuduh Nimas Lembah akan merusak hidupku? Ha ha ha. Engkau edan, Begawan Sempani!”

“Demikianlah sifat orang khilaf. Yang bodoh memaki goblok. Yang edan memaki gila,” jawab Begawan Sempani masih dengan wajah dingin. “Engkau keblinger, anakmas.”

“Pengkhianat bau tanah,” Ki Suradipa mencabut keris pusakanya, Tapi para penasihatnya cekatan mencegah sehingga demang yang sedang meradang itu wurung membunuh Begawan Sempani. Dengan wajah merah menyala, Ki Suradipa memerintahkan para pengawalnya.

“Penjarakan dukun lepus!”

Di istana semegah apapun; seperti halnya Ki Suradipa di kademangannya; sebagaimana  tiap penguasa yang mutlak; selalu terjadi seperti itu: tidak ada percakapan yang ikhlas; yang ada hanya tembok, dan kesewenangwenangan. Selalu saja begitu.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 009