Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 011

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 011Sandyakala Ratu Malang - Hengki Irawan
06 Juli 2020 22:07 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Suasana sangat menegangkan. Para penonton nyaris berhenti bernapas. Sang macan, dan Begawan Sempani, saling berpandangan. Harimau memandang dengan sorot bengis, sementara itu sang begawan menatap dengan damai. Sekitar empat menit mereka beradu pandang, akhirnya macan itu menundukkan kepala: tidak kuasa menentang sinar mata pendeta tua itu. Ia menciumi tanah, mendengus dan mengaum keras, tapi sama sekali tidak berani menatap Begawan Sempani.

“Dukun itu menyihirnya,” desis Nimas Lembah jengkel.

“Benar! Sempani memang jahat,” rutuk Ki Suradipa.

Para penonton bertepuk riuh, bukan karena empati, tapi pola pikir mantik itu pragmatis. Cara berpikir mereka semata pada logika. Mereka terkesima akan keberanian Begawan Sempani, dan untuk itu mereka menghadiahi tepuk tangan, tanpa ada campur tangan simpati.

Pada situasi mencekam itu, di luar penonton terjadi keributan. Terdengar bentakan bagai halilintar. Tanpa sadar, kerumunan menyibak membuka jalan.

“Minggir! Ayo minggir!” bentakan itu “menyihir” para penonton, karena orang yang baru datang itu menggunakan kedua tangannya mengangkat siapapun di depannya dan melemparkan ke kanan-kiri bagaikan melontarkan rumput kering. Dia adalah pemuda tampan berbadan tegap dengan perut sixpack. Dadanya dibiarkan telanjang, bercelana hitam kombor sebatas lutut, dan mengenakan ikat kepala wulung.

Anda benar! Pemuda perkasa itu Damar Panuluh, yang sengaja mencari ayahandanya. Ia diberitahu Mbah Godor, pelayan setianya itu, bahwa Begawan Sempani ditangkap, dan Demang Tembayat berniat mengadunya dengan macan loreng dari Alas Roban. Kedua mata Damar yang tajam terbelalak nanar ketika melihat ramanya berhadapan dengan hewan ganas yang telah siaga.

“Jahanam!” teriaknya sambil melompati pagar prajurit seperti terbang. Seorang tamtama yang berniat menghalangi terlempar jauh sekali didorong oleh Damar yang sedang murka itu.

Macan loreng itu tampaknya jeri menghadapi Begawan Sempani yang memiliki sepasang mata tajam berwibawa mengalahkan pamornya. Tapi, ketika harimau itu melihat seorang teruna datang mendekat, dengan menggereng-gereng menunjukkan giginya yang tajam ia maju perlahan sambil merendahkan tubuh sampai perutnya yang kempis menyentuh tanah. Kemudian, dengan tiba-tiba macan itu menerkam ke arah Damar. Tubrukannya cepat sekali.

BACA JUGA: Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 010

Semua penonton menjerit histeris, terutama dayang-dayang yang mengiringi Nimas Lembah. Mereka ngeri membayangkan dada pemuda yang halus bersih itu disobek-sobek oleh kuku harimau dan sang pemuda terkapar dalam genangan darahnya sendiri dengan leher nyaris putus. Nimas juga memandang pucat, mengkhawatirkan keselamatan pemuda itu.

Namun kengerian berubah menjadi keheranan, dan terdengar tepuk sorak gegap gempita. Ternyata pemuda tampan itu berhasil mengelak ke samping, dan sebelum macan loreng sempat menyerang lagi, kaki kanan Damar tepat menendang pinggul harimau yang terlempar ke depan tunggang langgang.

“Dahsyat,” seruan lirih ini tak sengaja keluar dari bibir mungil Nimas Lembah. Parasnya memerah dengan sinar mata redup memancarkan gairah berahi. Dikeloni pemuda perkasa? Hmm

Ki Suradipa sejak awal sudah marah melihat macan ganas itu keder menghadapi lawan. Dan sekarang seorang pemuda dusun berani lancang membela Begawan Sempani. Kini semakin murka mendengar pujian selir tercintanya.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 012