Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 012

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 012Sandyakala Ratu Malang - Hengki Irawan
06 Juli 2020 23:07 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Ki Suradipa sejak awal sudah marah melihat macan ganas itu keder menghadapi lawan. Dan sekarang seorang pemuda dusun berani lancang membela Begawan Sempani. Kini semakin murka mendengar pujian selir tercintanya.  Racun cemburu dan iri mengotori hati dan pikirannya. Secara refleks ia meraba-raba tombak pusaka Kanjeng Kiai Garuda Yaksa kesayangannya.

Sementara itu, Damar berdiri gagah dengan kedua kaki terpentang menghadapi harimau yang tiada henti mengaum buas. Kemudian binatang itu menyerang kembali, kini lebih ndrawasi dibanding serangan pertama. Akan tetapi Damar jauh lebih tangkas dari yang diduga, karena ia sigap menyelinap di bawah terkaman, dan untuk kedua kalinya kaki Damar telak menyampok perut macan yang terpental berguling-guling sampai jauh.

Di bawah sorak sorai penonton yang histeris, pertempuran dahsyat itu berlangsung agak timpang. Entah enam atau tujuh kali Damar berhasil menampar kepala harimau serta memukul perutnya. Namun binatang itu memiliki kulit yang tebal dan tubuh yang kuat, sehingga bertubi- tubi pukulan Damar masih belum mampu membinasakan, luka pun tidak.

Tidak kepalang ramainya pertempuran mati hidup antara Damar dan sang macan. Bukan hanya penonton yang berteriak-teriak gembira, juga para prajurit bertombak yang berjaga malah ikut bersorak. Hal ini tidak terlepas dari pengamatan Ki Suradipa yang kian jengkel saat melirik selirnya ternyata sedang memandangi pemuda perkasa itu dengan mulut menganga. Lidah Nimas Lembah yang runcing sesekali membasahi bibirnya. Hmmmm.

“Pemuda laknat!” serapah Ki Suradipa dengan tubuh menggigil.

BACA JUGA: Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 011

Damar sendiri jengkel melihat beberapa pukulannya belum berhasil merobohkan macan ganas itu. Padahal, aji Rog-rog Asem juga Lebur Seketi telah ia terapkan, dan jangankan kepala kerbau bahkan batu hitam sebesar kelapa pun lumat oleh pukulannya. Ketika harimau menubruk sembari mengaum keras, Damar melompat ke kiri, lalu dengan ketangkasan yang tidak dapat diikuti oleh penonton tahu-tahu Damar berada di atas punggung macan sambil menggunakan tangan kanan memiting, tangan kiri bergerak cepat.

“Creppppp!”

Jari telunjuk dan tengah dari tangan kiri Damar tepat menancap di kedua mata harimau. Binatang jalang itu meraung-raung bergulingan, tapi Damar tetap menempel ketat di punggung, dan menghujani pukulan pada kepala macan yang mengerang kesakitan. Para penonton berteriak kesetanan, bahkan ada yang menangis terharu sekaligus puas melihat keperkasaan Damar. Tentu bukan dorongan simpati atau empati mereka terharu, sebab yang terjadi adalah semacam proses identifikasi. Para penonton membayangkan dirinyalah yang unggul menghadapi harimau.

Pada saat Damar bergumul mati-matian, tiba-tiba tampak berkelebat bayangan hitam. Ki Suradipa meloncat dari panggung dengan sebatang tombak yang mengeluarkan cahaya kebiruan di tangan kanan. Ia menghampiri Begawan Sempani yang sejak tadi berdiri tenang. Sekarang ia memandang Demang Tembayat dengan tersenyum tulus.

“Dukun lepus! Engkau berani memberontak?”

Begawan Sempani menggelengkan kepala.

“Tidak ada yang memberontak, anakmas. Kedatangan anak muda itu semata kehendak sang hyang agung.”

“Pendeta palsu, rasakan tombak pusakaku,” Ki Suradipa secepat tatit menusukkan pusaka Kanjeng Kiai Garuda Yaksa ke dada Begawan Sempani.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 013