Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 013

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 013Sandyakala Ratu Malang - Hengki Irawan
07 Juli 2020 22:07 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Ki Suradipa secepat tatit menusukkan pusaka Kanjeng Kiai Garuda Yaksa ke dada Begawan Sempani.  Tombak berkerdipan cahaya itu dengan telak menghunjam di dada Begawan Sempani yang jangankan berteriak kesakitan, bahkan mulut itu masih tersenyum sabar. Ia berdiri kokoh, tapi jubah putihnya perlahan-lahan menjadi merah muda di bagian dada. Sang begawan memandangi Ki Suradipa tetap dengan senyuman.

Damar ketika itu sedang mengirim pukulan terakhir untuk membinasakan macan loreng yang rebah dengan kepala retak dan mata buta. Tepuk membahana seluruh penonton di lapangan itu mengobarkan bara di dalam dada pemuda yang bagaimanapun masih berdarah panas. Tujuan Damar satu: menewaskan sang macan. Mendadak sorak sorai berhenti, dan keadaan berubah sepi Tidak ada suara apapun. Nyenyat itu menggugah Damar dari pengaruh hikmat. Ia melepaskan bangkai harimau, lalu perlahan-lahan mengangkat muka. Ia melihat semua mata ditujukan ke satu tempat persis di belakangnya. Dengan cepat Damar menoleh ke arah Begawan Sempani.

“Rama …” Damar merasa tubuhnya lunglai dan kepalanya pusing. Ia memaksakan tetap berdiri, dan melihat darah merah membasahi jubah ayahandanya di bagian dada. Matanya kabur. Damar mengucek-ucek mata seolah ingin melenyapkan mimpi buruk di depannya.

Tidak! Damar bukan sedang mimpi buruk di siang hari. Ia melihat jelas sebatang tombak menancap tepat di ulu hati sang ayah. Ia juga melihat jelas Ki Suradipa memegang landean dan berusaha menarik pusakanya dari dada Begawan Sempani.

“Rama ” Damar menjerit lemah, ia tidak kuasa melangkah karena kedua kakinya serasa lasa. Tubuhnya seperti dilolosi seluruh tulangnya.

Demang Suradipa geragapan. Mukanya yang berpeluh tampak lesi. Seberapapun ia coba, coba dan mencoba menarik tombak Kanjeng Kiai Garuda Yaksa dari dada Begawan Sempani, namun tak bergeming. Ujung tombak agaknya terjepit oleh tulang rusuk pendeta sakti itu. Dan melihat pemuda kosen itu berhasil membunuh macan loreng, kemudian mendengar anak muda itu menyebut ayah kepada Begawan Sempani, betapa takutnya Ki Suradipa. Tombak ia lepaskan.

“Rama …” Damar menyambut tubuh Begawan Sempani yang sempoyongan ke arahnya.

Dengan hati-hati Damar meletakkan kepala ayahnya di pangkuannya. Berkali-kala nama sang bapa disebut dengan pilu. Tiba-tiba wajah pemuda itu berubah. Pelan-pelan ia mengangkat kepala Begawan Sempani, kemudian diletakkan di atas tanah. Lalu dengan gerak lambat Damar berdiri, kedua tangan dikepal kencang, dadanya turun naik, matanya setengah terkatup melihat orang-orang di sekelilingnya, dan berhenti di wajah Demang Suradipa. Tubuh Damar condong ke bawah, dengan gerakan siap menerkam bagaikan macan loreng ketika menyerang dirinya.

Ki Suradipa bukan orang sembarangan yang mudah sekut. Ia mantan senopati unggulan, kenyang menghadapi musuh, kenyang bertempur, kenyang asam garam perkelahian. Ia jaduk dan mumpuni berolah santika. Namun berhadap-hadapan dengan anak muda perkasa yang dilanda dendam kesumat, sedangkan pusakanya masih tertancap di dada Begawan Sempani, membuat Ki Suradipa gugup sehingga muncul tabiat aslinya: nyali kelinci.

“Pengawal! Tangkap pengacau kademangan!” perintahnya lantang.

Para pengawal bertombak serentak mengepung Damar yang masih berdiri kokoh di dekat ayahnya yang rebah bertilam rumput. Sedangkan demang itu cepat menyelamatkan diri di balik pagar betis para prajurit.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 014