Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 014

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 014Sandyakala Ratu Malang - Hengki Irawan
07 Juli 2020 23:07 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Bukan main geramnya Damar melihat sikap pengecut Ki Suradipa. Dan kemurkaan ditumpahkan kepada para prajurit yang mengepung dirinya.

“Kalian, budak demang pengecut itu, mau mengeroyok? Majulah!” ujar Damar parau, karena dadanya dipenuhi hawa amarah dan gundah.

Beberapa orang bergerak merangsek. Damar mengeluarkan lengkingan dilambari tenaga dalam. Tubuhnya melompat ke atas. Sekali tangannya bergerak, empat prajurit roboh dan dengan akas tangan kanannya merampas tombak. Kendati bukan pusaka, namun dengan bersenjatakan tombak kiprah Damar sangat luar biasa. Setiap pemuda sakti itu menggerakkan tombaknya tentu setidaknya dua atau tiga orang musuh terpelanting.

Tidak sampai sepenginang, kepungan para prajurit mengendur. Beruntung Damar walau masih muda tapi banyak mendapat wejangan dari ayah sekaligus guru kanuragannya, Begawan Sempani. Tidak ada seorang pun prajurit yang mati atau terluka parah. Mereka sekadar lecet dan paling hanya patah tulang. Damar paham bahwa mereka cuma instrumen kekuasaan Ki Suradipa.

“Bangsat tua bangka, pengecut nista tidak tahu malu. Ayo hadapi aku, Damar Panuluh, putra Begawan Sempani. Engkau, Suradipa gila, seorang demang sakti mandraguna, mengapa takut kepada anak desa?” Damar berdiri dengan tombak di tangan kanan, sedangkan tangan kirinya berkacak pinggang. Dadanya yang bakuh terangkat, dan kedua kakinya terpentang lebar.

“Damar ….” terdengar panggilan lirih, suara itu begitu halus seakan datang dari angkasa dan membawa semangat pemuda itu melayang-layang. Panggilan mesra itu bagaikan air wahyu yang disiramkan di kepalanya. Betapa suara itu menembus memasuki dada, mendatangkan rasa haru, anyep, dan menghalau nafsu amarahnya yang menggelegak. Cepat Damar berlutut, kepala Begawan Sempani diangkat dengan hati-hati. Ayahnya memandang Damar dengan sayu.

“Ngger, janganlah dirimu menjadi budak amarah. Semua sudah garis sang hyang agung. Aku, juga engkau, siapapun tidak bisa mengelak dari kehendak Gusti. Tombak ini, Kanjeng Kiai Garuda Yaksa, ia terlampau bertuah. Aku tidak kuasa menerimanya,”

Damar memandang pilu mata tombak yang melesak ke dada ayahnya.

“Harus kucabut tombak ini, rama?” Damar bertanya ragu.

Begawan Sempani tersenyum hambar. Damar tidak dapat menahan keharuan menampaki betapa dalam keadaan mandi darah itu ayahnya masih tersenyum. Dipeluk ketat tubuh sang bapa dan pemuda gagah itu menangis sesenggukan seperti anak kecil.

“Benar aku kalah oleh tuah Kanjeng Kiai Garuda Yaksa. Namun tidak seorang pun dapat mencabut tombak itu kecuali memang aku inginkan. Tidak ada yang bisa selain engkau, anakku. Cabutlah nanti setelah aku berangkat …”

“Rama …” Damar maklum ayahnya tidak mungkin tertolong. Yang ia lakukan hanyalah memeluk serta menciumi kepala ramandanya dengan hati remuk redam.

“Damar, sekaranglah titiwanci aku menjembreng tabir rahasia yang menyelimuti dirimu, Ngger. Jangan lagi panggil aku rama. Engkau bukan anakku, melainkan cucu …”

Kalau saja misteri itu diungkapkan pada waktu biasa, tentu Damar terkesima. Tapi saat ini perasaannya dikuasai kesedihan sehingga berita mengejutkan itu diterima dengan tenang. Tidak ada pengaruhnya. Begawan Sempani itu mau ayah kandung, atau kakek, atau bahkan sama sekali tidak ada sangkutan darah. Apa pedulinya? Bagi Damar, posisi Begawan Sempani tidak tergantikan dan tak terpermanai oleh predikat apapun.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 015