Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 015

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 015Sandyakala Ratu Malang. - Harian Jogja/Hengki Irawan
08 Juli 2020 22:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Bagi Damar, posisi Begawan Sempani tidak tergantikan dan tak terpermanai oleh predikat apapun. Pendeta sepuh itu adalah seorang di mana ia menaruh hormat dan ia sayangi lahir batin; seorang yang tidak pernah lelah mendidiknya, mengasuhnya. memeliharanya dan menempanya penuh kasih.

“Cucuku, engkau adalah anak semata wayang dari Rara Laksmiwati anakku. Dan engkau turunan langsung dari Panembahan Senopati di Mataram,” bisik Begawan Sempani.

Betapapun dukacitanya Damar, mendengar rahasia yang sama sekali tidak disangka ini, pemuda itu membelalakkan matanya yang jernih bercahaya. Ia, bocah angon di dusun terpencil, ibaratnya adoh ratu celak watu, tiba-tiba mendapatkan fakta sebagai anak penguasa kerajaan?! Begawan Sempani membawa Damar dalam mesin waktu yang mengantarnya ke masa lampau.

“Dulu, gusti prabu tersesat di pondok kita, saat beliau asyik berburu. Sang prabu bertemu putriku, dan jatuh hati. Beliau mengajukan pinangan yang tidak dapat aku tolak, bukan karena harta atau kuasa, namun putriku sendiri juga jatuh cinta. Mereka resmi suami istri, tapi ibumu menolak diboyong ke Mataram. Dengan berat hati, Panembahan Senopati balik ke kota raja, dan dari perkawinan itu lahirlah engkau, Damar Panuluh. Aku mengaku sebagai ayahmu, tak lain tak bukan supaya engkau tidak rewel menanyakan ayah bundamu,” tutur Begawan Sempani dengan suara semakin lirih. Matanya setengah terpejam akan tetapi wajahnya tetap segar.

“Rama, ehh, eyang panembahan, di dunia ini aku hanya memiliki engkau seorang. Kalau eyang pergi, sungguh nelangsa cucumu ini. Eyang seorang pinilih, seorang digdaya, pergunakan kesaktianmu, eyang, lawanlah maut yang hendak membawamu. Aku, ahh, jangan tinggalkan aku eyang panembahan,” Damar kembali terisak-isak seperti anak-anak.

Dan aneh. Pertalian batin yang kuat, juga ikatan emosional membuat tenaga pendeta tua itu pulih kembali. Ia mampu bergerak, bahkan bangkit duduk. Landean tombak Kanjeng Kiai Garuda Yaksa masih pacak menancap di dadanya.

“Cucuku, bocah bagus. Seberapapun tinggi kasekten manusia, ia tak lebih sebutir debu di hadapan daulat-Nya. Aku, engkau yang perkasa, juga Panembahan Senopati yang ngedab-edabi, hanya setitik air di samudra, dan mana mungkin setitik air ingin membawa kemauannya sendiri? Setitik air akan hanyut terbawa gelombang. Senangkah engkau, cucuku, melihat eyangmu cidro janji atau khianat melawan kehendak sang akarya semesta?” tegur halus Begawan Sempani.

“Ampunkan aku, eyang.” Damar menciumi kedua tangan Begawan Sempani yang penuh bercak darah.

“Cucuku, apakah engkau risau tentang kematian?”

Damar terhenyak sejenak. Lalu menunduk lemah.

“Benar eyang,” sahutnya lirih.

“Kematian adalah ikrar tentang kehidupan yang abadi. Tidak ada yang menakutkan, tidak perlu dibawa sedih. Kematian hanyalah pemisahan bagian rohaniah, yaitu atma, dari bagian fisik, yaitu raga. Justru ketika aku mati, aku dapat melihat banyak hal yang hakiki. Ternyata tidak semua keinginan manusia selalu berarti. Bahkan, yang kita anggap mulia sekali pun. Oleh sebab itu, cucuku, berhentilah meratapi kematian,” ujar Begawan Sempani menyerupai bisikan samar.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 016