Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 018

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 018Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki
09 Juli 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

“Suruh Yunda Mila balik Mataram. Kita hidup rukun, tenteram, penuh cinta dan damai,” Selir gandes itu dengan luwes melingkarkan tangannya ke leher suaminya.

“Atau Kangmas menginginkan aku bunuh diri?” sambungnya menanting.

“Tapi..”

“Tapi apa?” desah Lembah manja. Bibir mungilnya mencium telinga Ki Suradipa.

“Mila keturunan Panembahan Senopati. Kalau sampai sang prabu mendengar putrinya tertundhung dari Tembayat, bukan apa-apa, namun..”

“Kangmas takut dengan sang prabu?” Nimas Lembah bertanya sinis sambil berdiri.

“Takut sih tidak. Bagaimanapun sang prabu adalah ayah mertuaku,” elak Ki Suradipa.

Sepasang mata indah Lembah Manah memandang suaminya dengan sorot menghina.

“Ck ck ck ck, Kangmas, engkau masyhur sebagai tokoh digdaya, mandraguna, perkasa, memimpin para prajurit khusus, dan dulu pun Kangmas menjadi Banteng Mataram. Panembahan Senopati mampu berbuat apa terhadap kakangku tercinta ini?”

Sekitar dua menit Ki Suradipa melenguh. Dahinya yang lebar itu berkerut merut.

 “Mataram memiliki ribuan prajurit, juga para perwira tangguh. Kalau sang prabu murka, lalu mengirim pasukan ke Tembayat, tentu terjadi peperangan sangat dahsyat serta menimbulkan banyak korban di kedua pihak,” Ki Suradipa lagi-lagi dusta. Jika Mataram menyerang Tembayat, yang akan berlangsung bukan perang brubuh melainkan pembantaian habis-habisan genosida di kademangan itu. Termasuk demangnya sendiri dimungkinkan tewas arang keranjang.

Sebuah dusta mengelilingi separuh bumi tatkala kebenaran baru mengenakan sepatunya.

“Apakah tidak ada jalan lain yang lebih aman, Yayi? Engkau istriku pintar igah-iguh,”

Kembali Nimas Lembah dengan mesra menuntun Ki Suradipa ke pembaringan mewah. Ia dengan gaya aleman duduk di pangkuan suaminya. Pantatnya yang membusung lunak itu praktis menyentuh kelelakian demang yang benar-benar kesengsem kayungyun kasmaran itu.

“Maafkan aku yang dungu. Istrimu ini hanya bisa setia, yang cuma dapat mencintaimu sepenuh jiwa. Untung Kangmas mengingatkanku,” bisik Nimas Lembah merendah.

“Jangan begitu, Yayi, aku tahu engkau wanita cerdik,” Ki Suradipa mencium lembut, dan beberapa saat mereka berpagutan. Dua lidah berkelindan lama. Sampai akhirnya demang digdaya itu tersedak sendiri kehabisan napas. Semangat besar, tenaga ambyar.

“Marahkah Kangmas jika aku mengemukakan siasat?” tanya Nimas Lembah.

“Marah? Aku marah padamu?” Ki Suradipa, lelaki separuh baya itu sengsem. Mulutnya kembali mencium selirnya penuh nafsu. Syahwatnya sudah sampai wunwunan, lalu turun sampai di bawah pusar. Berhenti di situ.

“Jangan sekarang, Kangmas,” Nimas mengerang seperti anak kucing disayang biangnya.

“Kasih kesempatan aku mengemukakan sesuatu, Kangmas,”

Dengan bisik-bisik, napas Nimas yang hangat meniup-niup telinga Ki Suradipa membuat demang itu kian berkobar-kobar berahinya, lalu selir cerdik itu mulai menuturkan strateginya. Ki Suradipa mengangguk-angguk dan memandangi selirnya entah takjub entah gembira.

“Benar, benar, ya, ya, engkau cerdas Yayi, betul begitu,”

Tidak salah ucapan pujangga purbakala, bahwa seberapa gagah seorang pria, kalau sudah “demam” terhadap wanita, maka kegagahannya ibarat tanah liat dalam genggaman ahli tembikar yang membentuknya sesuka hati. Tidak terkecuali Ki Suradipa.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 019