Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 019

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 019Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
10 Juli 2020 22:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Demang yang kepincut rayuan selirnya, sebagaimana salak ijo-ijo, ia lupa anak lupa bojo. Nimas Lembah mengajukan strategi, agar Mila Banowati dan putrinya, Latri Dewani, diantar ke Mataram dengan pengawalan satu bregada plangkir, terdiri 24 orang prajurit pilihan. Kelak, saat dalam perjalanan, kedua ibu anak itu akan dibinasakan, kemudian para pengawal diharuskan lari memberi laporan Panembahan Senopati bahwa ketika mengantar Mila dan Latri diserang oleh Damar, seorang pendekar muda dari dusun Krikilan, sebagai pembalasan dendam akan kematian Begawan Sempani. Pada titik ini mungkin kita sepakat, Nimas Lembah memang jago bersiasat. Satu strategi yang patut dipuji sekaligus dilaknat karena moralnya yang bejat.

Pada keesokan hari dengan masygul Demang Suradipa memasuki kamar sang permaisuri. Kedatangannya disambut dengan wajah heran oleh Mila Banowati, tapi diterima penuh sukacita oleh Latri yang berbulan-bulan tidak pernah bertemu ramanya kendati mereka berada dalam satu wuwungan.

Dengan cekatan, Latri membuatkan wedang jahe serai aren kesukaan ayahandanya. Juga dengan gembira gadis kecil itu menyiapkan pelbagai jajanan yang ia tahu ramanya sangat karem seperti: wajik klethik;- gethuk gula jawa;- arem-arem;- cenil;- kue mendut; dan klepon.

“Diajeng Mila, kedatanganku hendak minta pertimbanganmu. Berbulan-bulan aku tidak sowan ke Mataram menghadap rama prabu,” kata Ki Suradipa pelan sesudah ia  minum beberapa teguk wedang jahe kegemarannya itu. Kerongkongannya terasa kering.

“Mengapa selama itu Kangmas tidak menghadap rama prabu?”

Ki Suradipa menghela napas.

“Pekerjaan di kademangan seperti tidak ada habisnya, Diajeng. Waktuku tersita sehingga niat menghadap rama selalu tertunda. Aku sendiri cemas, rama prabu murka jika aku terlalu lama tidak ngabekti. Maka semalam aku berpikir dan mengambil keputusan untuk mohon bantuanmu, Diajeng,” Ki Suradipa berhenti sebentar untuk mengatur dadanya yang berdenyar-denyar.

“Aku siap membantumu, Kangmas,” ujar istri setia itu tegas.

“Ya, ya, engkau sendiri telah sangat lama tidak bertemu dengan keluarga besar di istana. Aku mewakilkan engkau sowan rama prabu. Ceritakan bahwa kademangan Tembayat tidak ada hambatan apapun, paman petani dan paman nelayan semuanya sejahtera.”

“Ya, Kangmas,” sahut Mila Banowati yang kurang yakin dengan ucapannya sendiri. Ia tidak pernah keluar dari pelataran, tapi rakyat Tembayat hidup makmur?!

“Rama, izinkan aku ikut ibu, ngabekten kepada eyang prabu,” sergah Latri dengan wajah sumringah. Gadis kecil itu tidak dapat membayangkan seperti apa kota raja, tentu sangat megah.

“Pergilah kalian berdua. Jaga biyungmu baik-baik ya, Nduk. Berkemaslah sementara itu aku perintahkan satu bregada plangkir untuk mengawal perjalanan, juga aku harus menyediakan apa yang sekiranya patut dihaturkan kepada rama prabu,” kata demang itu lembut, dan baru kali ini Ki Suradipa mampu berperan layaknya seorang ayah yang baik hati. Ehm.

Jempana, ransum perjalanan, prajurit pilihan, kuda yang bakuh, sekotak penuh rajabrana, semua disiapkan Ki Suradipa dengan saksama. Nimas Lembah Manah hadir dalam persiapan ini, dan dengan penuh pengindahan memberikan pesan agar mereka hati-hati menjaga diri di tengah jalan, tidak lupa doa keselamatan dipanjatkan.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 020