Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 020

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 020Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
10 Juli 2020 23:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Nimas Lembah Manah hadir dalam persiapan ini, dan dengan penuh pengindahan memberikan pesan agar mereka hati-hati menjaga diri di tengah jalan, tidak lupa doa keselamatan dipanjatkan.

“Yunda Mila, doaku menyertaimu,” Nimas Lembah memeluk Mila Banowati sambil tak lupa menumpahkan waspa, sampai matanya kemerahan basah air mata.

Belum lama rombongan itu berangkat, Ki Suradipa terguguk di atas kursi, mukanya pucat karena betapapun ia tergila-gila terhadap Lembah, toh nuraninya memberontak. Entah suara hati atau suara kalbu, mengutuk perbuatan laknatnya. Tapi tiba-tiba sebuah lengan berkulit halus memeluk lehernya dari belakang, dan kala syahwat berbicara maka nuraninya kembali terkunci. Rangsangan berahi naik ke ubun-ubun turun ke lipat paha.

*******

BREGADA plangkir itu sesungguhnya direkrut tidak lewat fit and proper test melainkan diambil dari bekas perampok, kecu, begal yang berhati tawar menghadapi perbuatan yang kejam seperti apapun. Mereka pada dasarnya menaruh dendam kepada Mataram, maka Ki Demang atau Nimas Lembah selaku inisiator sudah tepat memilih mereka. Mereka berjalan cepat, dan ketika senja membayang rombongan itu justru berada di alas gung liwang-liwung. Ini juga skenario dari Nimas Lembah, yang menginginkan “yundanya” beserta putrinya dibinasakan di hutan wingit.

“Berhenti!” perintah Bugel Mantiki kepada para pengusung jempana.

Delapan orang kuli kasar yang memanggul mungkur langsung bertambat. Mereka tampak kelelahan karena menempuh perjalanan sejak pagi hingga sore hanya berehat satu kali. Dua buah tandu diturunkan. Masing-masing membuka destar untuk menyeka keringat yang berdliweran.

Mila Banowati dan Latri Dewani menyingkap penutup tandu.

“Ehh, mengapa berhenti di sini? Hari sudah gelap. Ayo kita mencari tempat penginapan di kampung depan,” ujar Mila dengan dahi berkerinyit. Firasatnya tidak nyaman, terlebih ketika melihat para pengawal menyeringai dengan kurang ajar. Sirna sudah wajah-wajah patuh seorang tamtama, berubah menjadi muka-muka liar beringas. Melihat keadaan ini, Mila mengajak Latri keluar dari pelangkin.

“Kita istirahat di sini!” ujar Bugel Mantiki sembari memelintir kumisnya yang lebat.

Kemudian dengan cepat ia mencabut pedang yang tersengkelit di pinggang, dan sekali ia ayunkan senjata itu, dua orang pemandu tandu berkelojotan mandi darah. Tidak berapa lama meregang nyawa, mereka binasa. Enam orang temannya terperangah namun keterkejutan mereka hanya sebentar. Tiga orang “prajurit” menggerakkan golok, dan sekejap kemudian delapan buruh upahan itu terbunuh. Tubuh mereka berserakan di atas rumput dalam genangan darah merah. Bau anyir menguar di tengah hutan lebat itu. Mila dan Latri nyaris pingsan melihat pembunuhan amat sadis ini. Mereka saling peluk dan menutupi muka menangis ketakutan.

“He he he,” Bugel Mantiki tergelak-gelak. “Sayang ki demang tidak melihat sendiri.”

Mendengar ucapan ini timbul dugaan mengerikan dalam hati Mila. Dengan tabah putri Panembahan Senopati itu membuka mata, dan memandang tajam kepada kepala “bregada” kaleng kaleng ini.

“Mengapa kalian membunuhi para kuli yang tidak bersalah apapun? Lalu siapakah yang akan mengusung tandu kami?” tanya Mila tanpa rasa takut.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 021