Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 023

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 023Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
13 Juli 2020 22:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Kepala perampok yang licik itu tahu keadaan tidak menguntungkan tiba-tiba lari menuju ke arah Mila Banowati dan putrinya di dekat jempana. Pedangnya mengayun deras sekali ke leher Mila.

 “Pengecut licik!” Pemuda bertombak ingin mengejar tapi langkahnya dihalangi lawannya yang masih seorang. Nyaris lambungnya sobek karena perhatiannya tertuju ke Bugel Mantiki.

“Jahanam!” makinya sambil menggulingkan diri.

Pada saat bergulingan ia melihat Mantiki semakin dekat dengan Mila dan anaknya. Tidak ada jalan lain, terpaksa tombak ia lemparkan sepenuh tenaga ke tubuh Bugel Mantiki. Lontaran itu bersamaan waktunya Mantiki mengangkat pedang tinggi-tinggi. Terdengar raungan menyayat ngeri. Tombak itu menembus punggung Mantiki sampai dada. Pedangnya terlepas. Tubuhnya sempoyongan dan akhirnya tertelungkup dengan napas putus. Pemuda itu lari menghampiri jasad Mantiki dan mencabut tombaknya yang berlumuran darah. Ketika ia menengok, lawannya yang tadi ditinggalkan sudah melarikan diri masuk semak belukar yang lebat.

“Dinar, engkau hebat,” puji pemuda bertombak itu menampaki kawannya sudah rampung bertempur dan dua belas orang lawannya berserakan di atas apean (rumput alang-alang kering). Ia membuka kedok hitamnya.

“Damar engkau juga dahsyat,” temannya balas menyanjung sambil melepas cadarnya.

Ternyata, sebagaimana pembaca duga, memang benar anak muda bertombak itu Damar. Dan temannya seorang pemuda tampan, berambut ikal berombak, dan sinar matanya jenaka. Ia yang tadi dipanggil Dinar oleh Damar. Mereka menghampiri Mila dan Latri yang masih saling peluk. Berdua memandang terkesima kepada Latri yang cantik manis.

Teja-teja sulaksana, tejane wong anyar katon. Ilang tejane cumlorot saksada lanang, jumleger kari menungsane. Raden niku sinten namine?”

“Kami pemuda dusun sekitar sini, Bibi,” jawab Dinar.

“Bahaya telah lewat. Tidak ada yang perlu dicemaskan,” kata Damar sopan. Tentu saja ia tidak menyangka sama sekali bahwa wanita setengah tua yang ditolong itu istri dari Demang Ki Suradipa, musuh yang sangat dibencinya.

“Aduh, raden berdua, semoga Gusti melimpahkan barokah kepada kalian, yang menolong kami, ibu dan anak. Tanpa bantuan kalian, entah bagaimana nasib kami,” ujar Mila.

“Sudahlah Bibi. Semua begal telah kami basmi. Bukannya kami kejam tapi mereka layak dibinasakan sebab membahayakan masyarakat. Bibi dan adik ini dari mana, hendak ke mana dan bagaimana bisa bertemu segerombolan penyamun di tengah hutan?”

Sebelum Mila menjawab, Latri dengan malu-malu dan menundukkan muka berkata lirih:

“Ibuku janda. Aku anak tunggalnya. Kami hendak ke Mataram mengunjungi paman yang menjadi saudagar. Di hutan kami bertemu sekawanan perampok. Untunglah ada kalian berdua, dan terimalah pernyataan bersyukur kami, raden,” Tiba-tiba Latri berlutut menyembah. Mereka merasa kikuk. Jika membangunkan berarti harus menyentuh pundak gadis itu dan rasanya tidak sopan. Didiamkan juga tidak tega.

“Nona, ehh, adik, bangunlah. Sepantasnya manusia saling menolong,” ujar Damar rikuh.

Dengan halus Mila mengangkat pundak putrinya. “Benar kata Latri, putriku ini. Kami dari Tembayat hendak ke Mataram,” kata Mila.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 024