Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 024

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 024Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
13 Juli 2020 23:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Istri Ki Suradipa maklum maksud Latri berdusta. Jika berterus terang, tentu mereka ini terkejut dan siapa tahu merasa berkewajiban mengantar balik ke kademangan yang seolah neraka jahanam bagi Mila dan putrinya. Ada dusta hitam, ada dusta putih, sebagaimana Pandawa dusta bahwa Aswatama gugur. Dusta putihkah yang dilisankan Latri?!

“Tapi malam sudah turun. Bagaimana mungkin meneruskan perjalanan yang masih jauh? Para pemikul tandu semua binasa. Jika berkenan, silakan singgah di kampung kami, dan besok kalian melanjutkan ke Mataram,” kata Dinar sambil melirik gadis manis yang masih menunduk malu itu. Mila setuju, maka berangkatlah mereka berempat menuju kampung yang tak seberapa jauh dari hutan. Ibu dan anak itu terpana setiba di dusun itu dikarenakan banyak orang kumpul di situ dan semuanya bersikap sopan.

“Silakan beristirahat di sini. Kami akan menjaga kalian sebaik-baiknya,” ujar Dinar, dan teman-temannya mengangguk setuju. Kesantunan anak-anak muda itu membuat Mila dan Latri merasa tunak berada di kampung yang sangat bersih meski terhitung sederhana. Sang putri kedaton yang halus budi itu, juga Latri yang sejak kecil dididik subasita bertata-krama, tidak ada rasa angkuh walau mereka sangat sinuba-suba (dihormati) layaknya bangsawan.

Tapi, bagaimana Damar Panuluh bisa di dusun itu, dan siapa Dinar pendekar muda itu?

*******

HUJAN rinai membasuh bumi bagai Batari Uma meruntuh waspa di kahyangan melihat anaknya tumbuh sebagai raksasa mengerikan bernama Batara Kala. Damar memanggul jenazah kakeknya dengan hati lantak. Ia disambut warga Krikilan dengan penuh rawan hati. Nama sang kakek, Begawan Sempani, masyhur sebagai orang sakti berbudi bawa laksana, dan tidak kurang-kurang orang desa ditolong oleh panembahan andhap asor itu, baik nasihat, tausiah maupun mengobati mereka yang nandang sengsara, lahir maupun batin.

Tidak sedikit pula yang mengangkat sebagai guru --- olah batin maupun kanuragan serta olah kasantikan --- tanpa sepeser pun Begawan Sempani mengutip bayaran. Tidak heran mereka sedih sekaligus dendam atas tewasnya panembahan yang sangat mereka hormati. Di antara para anak muda yang sakit hati terhadap Demang Ki Suradipa, adalah Dinar putra kepala kampung Praci, murid kinasih Begawan Sempani sekaligus teman bermain Damar sejak kecil.

Disaksikan semua warga Krikilan, Damar mencabut tombak Kanjeng Kiai Garuda Yaksa dan bersumpah di depan pusaka itu dengan suara lantang.

“Disaksikan langit dan bumi, aku bersumpah, entah kapan tombak ini akan aku tancapkan ke dalam dada Suradipa. Aku tidak tenteram hidup di semesta ini sebelum tertunaikan dendamku kepada demang biadab itu!”

Damar paham tentu dirinya akan diburu oleh para prajurit upahan Ki Suradipa, dan bukan tidak mungkin besok pagi sepasukan bregada menyerbu dusun Krikilan untuk membunuhnya. Ia mengambil keputusan malam itu juga pergi entah ke mana asal menjauhi kademangan Tembayat.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 025