Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 025

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 025Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
14 Juli 2020 22:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Dinar, Gotrek, Wardani, dan para pemuda dari beberapa kampung wilayah Krikilan turut serta di belakangnya. Mereka menjadi “bregada tangguh” sebab sejak remaja sudah berlatih olah kanuragan langsung di bawah petunjuk Begawan Sempani. Mereka takut Demang Suradipa akan menumpahkan amarah kepada ayah, ibu atau adik mereka, maka diboyonglah seluruh keluarga, dan menebang hutan untuk mendirikan dusun anyar dengan nama Anjali yang artinya berbakti.

Sebuah rumah besar dibangun di tengah kampung menghadap utara sebagai markas para pemuda berkumpul. Tentu ada petungan khusus mengapa pintu bukan ke selatan, sebab mereka percaya timur dikuasai Maha Dewa;- Barat dijaga Batara Yamadipati;- Utara tempat Batara yang paling arif yakni Wishnu;- Sedangkan selatan bermukimnya Batara Brahma. Markas komando itu dibangun memenuhi enam unsur yakni: jembar; mencira (terpencil); apitambuh (artifisial);- kawak (kuno);- muncar (air yang memancar) serta pandangan yang luas. Itulah sebabnya tempat tersebut diberi nama Sad Ruhur atau Enam Keagungan.

Di tengah alas rungkut itulah Damar dibantu Dinar mersudi anak-anak mudanya dengan spartan dan warabrata. Pagi, siang, malam mereka berlatih dengan keras. Mereka siap kapanpun menyerang kademangan Tembayat jika keterampilannya sudah mumpuni. Sementara itu, Damar acap tercenung jika teringat cerita kakeknya, bahwa mendiang ibunya adalah istri Panembahan Senopati. Artinya, dirinya seorang bangsawan, bahkan pangeran atau putra raja. Namun rahasia ini disimpan rapat termasuk dengan Dinar, sahabat kentalnya. Praktis semua orang menganggap Damar itu putra Begawan Sempani yang disegani. Perjumpaannya dengan Mila dan putrinya, membuat Damar semakin benci kepada Demang Suradipa.

“Teman-teman, peristiwa yang baru saja dialami oleh tamu kita itu menunjukkan betapa bobroknya pemerintahan Suradipa. Demang macam apa, kalau perampok, begal, kecu merajalela di mana-mana. Bahkan aku wasangka, menilik pakaian para penyamun, rasanya rasukan seperti itu tidak pantas dipakai gerombolan orang kasar. Wastra semacam itu biasanya dikenakan oleh punggawa atau pemimpin prajurit kademangan,” kata Damar membuat Mila dan Latri yang ada di ruang tengah menjadi terkejut. Semula mereka beranggapan Damar dan Dinar hanyalah anak muda perkasa, dan tidak menyangka Damar demikian cermat serta tampak sangat membenci Ki Suradipa. Ibu dan anak itu menjadi was-was.

“Aku pun curiga,” timpal Dinar. “Mereka memainkan senjata cukup baik. Rata-rata kecu hanya mengandalkan tenaga kasar. Sebaiknya kita bertanya lagi kepada tamu-tamu itu.”

“Bibi dan putrinya kita undang kemari,” kata Damar.

Semua setuju Mila dan Latri diminta mendekat. Sang putri kedaton memandang kagum para pemuda yang bersila rapi dengan sikap santun. Sementara Latri menunduk dengan tersipu. Gadis juwita itu tidak kuasa menentang pandang mata sekian banyak pemuda yang kesemuanya ditujukan kepadanya dengan sorot kagum tapi bukan ceriwis atau apalagi kurang ajar.

“Bibi dan adik yang baik. Maafkan jika kami mengganggu istirahat kalian. Sesungguhnya kami curiga melihat dandanan para begal,” Damar bertanya.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 026