Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 026

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 026Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
14 Juli 2020 23:37 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

“Apakah di Tembayat bibi tidak pernah melihat mereka dan apakah bibi tidak menduga-duga sesuatu kenapa kalian secara kebetulan dicegat di hutan?” Damar bertanya halus, tapi pandangan matanya tajam ke Mila Banowati. Bagaimanapun, darah ningrat mengalir deras pada putri Panembahan Senopati itu. Maka merasakan betapa anak muda itu (walau sopan) mengajukan pertanyaan seperti kepada seorang pesakitan di pengadilan, Mila tidak menjawab justru balas bertanya dengan angkuh.

“Anak muda, sebelum aku menjawab pertanyaanmu, lebih dulu perkenalkan dirimu, dan apa hubunganmu dengan Demang Ki Suradipa? Siapa pula kalian ini yang berkumpul sepertinya sedang menghimpun kekuatan untuk melakukan sesuatu?”

Damar terperangah. Jelas ini bukan suara wanita renta dari sebuah desa. Juga pertanyaan bibi itu membayangkan bahwa ia tahu banyak tentang diri Suradipa. Sikapnya pun berwibawa. Bahkan ada semacam perbawa yang hanya dimiliki orang-orang tertentu.

“Baiklah bibi, kepadamu tidak sepatutnya aku menyimpan rahasia. Aku Damar, putra Begawan Sempani yang dibunuh secara licik oleh Suradipa.”

Benar Mila mampu menekan perasaan hatinya. Toh parasnya pucat mendengar jawaban Damar. Untungnya oncor di pelataran yang suram membuat perubahan wajahnya tidak kentara. Sedangkan Latri menggerakkan sedikit mukanya mengerling ke arah Damar yang menimbulkan perasaan aneh di dadanya.

“Hmm. Jadi engkau ini putra Begawan Sempani yang nahas itu raden? Kasihan sekali ramandamu,” Mila berkata lirih. “Lalu sekarang engkau kumpulkan kawan-kawanmu untuk ikut menyerbu Tembayat?”

“Sudah sewajarnya seorang anak membalas kematian ayahnya. Tidak pantaskah tombak pusaka Kanjeng Kiai Garuda Yaksa yang mengantar nyawa rama panembahan ini aku gunakan untuk mengantar pula nyawa Suradipa menyusul rama? Salahkah sikapku ini bibi?” Kemudian, Damar yang sesaat dikuasai amarah teringat bahwa yang ia hadapi “hanyalah” wanita desa. Lalu menyambung ucapannya dengan suara lembut.

“Maaf bibi. Tidak sepantasnya di depan tamu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan pribadiku ini aku melampiaskan marah,” Damar lalu menyembunyikan tombak di belakang tubuhnya.

Mila telah dikhianati bahkan nyaris tewas, namun bagaimanapun Ki Suradipa itu suami yang (pernah dan masih) dicintanya. Sebagai putri raja Mataram ia dituntut berani menghadapi kenyataan, juga berani menerima segala karma kejahatan suaminya. Maka dengan sikap agung, Mila menatap lurus wajah pemuda tampan di depannya, kemudian berkata lantang:

“Baiklah, anak muda. Engkau sudah mengutarakan semua isi hatimu. Sekarang giliranmu mendengar pengakuanku. Para begal yang engkau binasakan itu adalah pengawal-pengawal dari Suradipa. Mereka sengaja hendak membunuh aku dan Latri. Ketahuilah, aku Mila Banowati; dan Latri adalah anakku, anak Demang Suradipa!”

“Ahhh. Jadi, bibi?” Damar memandang kaget.

Mila mengangguk.

“Ya, aku istri Ki Suradipa.”

“Iyung!” Latri memandang ibunya dengan berlinang air mata.

Mengapa ibunya nekat membuat pengakuan terang-terangan di depan musuh ayahnya? Sejenak suasana hening. Dan sesaat kemudian para pemuda berteriak marah, bahkan Damar telah mencabut keris pusakanya.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 027