Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 027

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 027Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
15 Juli 2020 22:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

“Mohon teman-teman diam! Beri kesempatan bibi meneruskan cerita. Mengapa engkau hendak dibunuh oleh para pengawal suamimu sendiri?” Sepasang mata Damar mencorong aneh, seolah hendak menembus dada dan menjenguk isi hati perempuan di depannya.

“Awalnya, suamiku menyuruh aku pergi ke Mataram dengan kawalan para punggawa. Di tengah hutan, kami hendak dibunuh, dan menurut pengakuan Mantiki, memang mereka disuruh oleh suamiku sendiri,” ujar Mila tenang.

Para pemuda yang tadinya marah kini menggeleng-gelengkan kepala. Juga Damar tidak habis pikir. Matanya memandang jauh ke depan. Keningnya berkerut merut.

“Mengapa suamimu ingin membunuhmu? Dan tega terhadap putrinya sendiri?”

“Semua ulah perempuan siluman, iblis berupa wanita cantik,” Mila menarik napas dalam-dalam, sementara Latri terisak-isak karena sedih dan cringe dengan polah ayahnya.

“Lembah Manah, selir suamiku. Hatinya busuk, bertentangan dengan namanya. Kata-kata ramamu benar, bahwa Lembah perempuan siluman. Setelah semua selir Ki Suradipa terusir dari kademangan, Lembah masih ingin melenyapkan aku dan anakku yang dianggap hanya calabéka, menjadi penghalang cita-citanya menguasai Tembayat,”

“Binatang berwajah manusia,” geram Damar.

Mila menggelengkan kepala dengan muka sedih.

“Suradipa tidak jahat. Dulu ia bahkan menjadi Banteng Mataram. Setelah ia memboyong Lembah Manah masuk kademangan, ahh, ia tersesat sedemikian jauh. Kematian ramamu bukan semata-mata kesalahan Suradipa, ada otak penghasut di belakangnya, siapa lagi kalau bukan dia, ledek berhati culas itu,” Mila tidak mampu menahan diri. Ia meruntuhkan waspa.

“Duh suamiku, nasib apa yang kelak menimpamu?” isak Mila yang meski nyata-nyata Ki Suradipa mengincar nyawanya toh masih juga mencemaskan masa depannya.

“Sayang sekali seorang pengawal berhasil lolos. Tentu ia membuat laporan kepada suami bibi, dan demang itu akan mengerti bahwa engkau dan adik Latri masih hidup,” ujar Damar.

Kini kebencian semua orang terhadap Mila dan Latri berubah iba. Kasihan ibu dan anak, yang sengsara akibat kekejaman Suradipa. Sampai jelang subuh mereka bercakap-cakap serius. Mengingat tentu Suradipa akan memburu istri dan putrinya yang belum binasa, maka menurut Damar alangkah lebih baik jika mereka berkenan sementara tinggal bersama di hutan.

Semula terbersit di benak Mila untuk mengadukan solah suaminya kepada Panembahan Senopati. Akan tetapi sebagai putri kedaton ia malu jika sampai terdengar orang lain kerusuhan dalam rumah tangganya. Maka tawaran Damar disambut gembira. Ia senang tinggal di situ.

“Lebih baik aku di sini bersama anak-anak muda yang sopan,” pikir Mila.

Dan semenjak itu, Mila dan Latri tinggal di dusun Anjali, hidup bersahaja bersama para petani. Mereka tidak mau berpangku tangan. Setiap sore Mila memberi pelajaran membatik dan menyulam kepada ibu-ibu di situ, tak heran sebentar saja mereka dikasihi oleh segenap warga.

Mila dikenal sebagai wanita cerdas berpengetahuan luas. Banyak di antara ibu-ibu datang mohon petuah. Sedangkan Latri dikagumi karena kecantikannya yang benar-benar alami, selain juga pandai membatik serta pelbagai kerajinan tangan.  Latri dikenal sebagai “diva” atau bunga pujaan seluruh pemuda.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 028