Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 028

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 028Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
15 Juli 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

TAK kepalang kagetnya Demang Suradipa ketika pagi itu melihat seorang pengawalnya berlari-lari dengan raut pasi. Pakaiannya sobek di sana-sini, napasnya terengah-engah, tubuhnya lemas karena semalaman penuh ia berlari tanpa henti. Begitu di hadapan Ki Suradipa, pengawal itu menjatuhkan diri sambil menangis di depan kaki majikannya.

“Gusti Demang, nahas benar nasib hamba.”

“Dobleh, kenapa engkau seperti ini? Mana teman-temanmu?”

Pengawal itu melirik kanan-kiri dengan jengah. Ki Suradipa cepat tanggap, lalu mengusir para pelayan sehingga tinggal ia berdua dengan Dobleh. Pada saat itulah muncul Nimas Lembah dari senthong kanan dan wanita cantik inipun pucat menampaki keadaan pengawal sial itu.

“Apa yang terjadi?” tanyanya cemas.

Dobleh terbata-bata menceritakan betapa dua puluh tiga temannya tewas dibunuh oleh dua orang pemuda bercadar di tengah hutan belantara. Mereka gagal menjalankan tugasnya. Mila dan Latri selamat. Ia beruntung berhasil meloloskan diri dan dapat kembali ke kademangan meski ia harus berlari-lari semalaman dalam gelap.

“Apa katamu, setan?” Kaki Suradipa menendang sehingga tubuh pengawal apes itu jatuh berguling-guling di atas lantai.

“Ampun, Gusti Demang,” Dobleh merintih sambil menangis.

“Pengecut! Manusia nista tiada guna. Kalian mengaku gagah perkasa berjiwa perwira. Di mana kegagahan kalian, di mana? Hanya menghadapi dua pemuda saja kalian kalah,” ujar geram Ki Suradipa dengan sorot mata menyala.

Pelan-pelan Ki Demang menjatuhkan diri di atas kursi dengan paras lesi. Mila dan Latri tidak binasa, tidak membuat menyesal bahkan diam-diam bersyukur. Akan tetapi ia teringat dan hal ini membuatnya ketakutan setengah mati: Mila dan Latri tentu meneruskan perjalanan, dan di Mataram akan melaporkan pengkhianatan dirinya kepada Panembahan Senopati.

“Kita celaka, Kangmas. Gusti prabu pasti segera mengirim selaksa prajurit menggempur Tembayat. Bagaimana dengan diriku, kakang?”

Mendadak Ki Suradipa meloncat dan membentak pengawalnya yang masih kelesotan di tanah. “Dobleh, cepat bangun, dan panggil Dimas Pranacitra kemari. Engkau harus menuturkan kepada siapa saja, bahwa rombongan kalian dibegal oleh putra Begawan Sempani, dan gustimu Mila serta Latri diculik mereka di tengah alas. Paham?”

Dobleh menyembah taklim, lalu pergi ke rumah Pranacitra. Tak lama kemudian seorang perwira tinggi besar berkumis melintang dan menjadi orang kepercayaan Ki Suradipa, berjuluk “Banteng Tembayat” datang menghadap.

“Dimas, apakah Dobleh sudah menceritakan peristiwa yang dialami istriku?”

“Sudah Kangmas, tapi tidak begitu jelas. Katanya diculik perampok di hutan.”

“Jahanam keparat anak dukun lepus Begawan Sempani, sekarang menjadi pemberontak, dan berkeliaran sebagai penyamun. Anak itu dan gerombolannya membegal mbakyumu Mila dan Latri keponakanmu. Satu bregada plangkir dibinasakan di alas Somawana, hanya tersisa Dobleh. Kita jangan sampai kasep, Dimas, kerahkan prajurit untuk menyerbu kawanan kecu itu, dan ajak Dobleh sebagai penunjuk jalan,” ujar Ki Suradipa dengan wajah murung.

“Kangmas, jangan khawatir. Kalau hanya anak ingusan, mau dibantu beberapa kawannya bukan makanan keras bagiku. Pangestumu saja, Kangmas,” kata Pranacitra membusungkan dada bidangnya.

“Doa restuku bersamamu, Dimas.”

“Sendhika.”

 BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 029