Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 031

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 031Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
17 Juli 2020 22:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Demang Suradipa memang sengaja memesan agar Nimas Lembah jangan keluar, karena siapa tahu utusan Mataram datang bertalian dengan urusan Mila. Ternyata tamu itu Ki Permana yang menjadi sahabat lamanya. Ia menyuruh dayang-dayang memanggil Nimas Lembah.

“Ahhh,” tidak sengaja Pangeran Arumbinang berseru. Ia begitu terpesona oleh kecantikan wanita belia yang melenggang halus ke arahnya. Ia serasa berhadapan dengan bidadari yang baru turun dari kahyangan suwargaloka seperti biasa diceritakan dalam pewayangan.

Demikian juwitanya Nimas Lembah; demikian menggairahkan lekuk tubuhnya, terutama mata, dada serta bibirnya; demikian halus kulitnya yang bisa dilihat dari lehernya yang jenjang. Bahkan Ki Ageng Permana, yang sudah renta, ikut memandang kagum walau sepintas.

“Pangeran,” panggil lirih Ki Permana sekaligus “menyadarkan” pangeran yang bengong dengan mulut celangap menghadapi “bidadari” dari Srebegan itu. Akan halnya Arumbinang sang pangeran tampan itu beberapa kali menelan ludah. Matanya memandang lekat wajah Lembah.

“Ehm. Kakang mbok Nimas Lembah, betapa gembira dapat berkenalan dengan engkau di sini. Tak keliru pendapatku ini, Kangmas Demang Suradipa memang seorang pria paling bahagia di muka bumi ini,” ucapan halus Pangeran Arumbinang terdengar merdu di telinga Nimas, yang selalu menundukkan paras dengan gaya sangat santun. Sebagai sinden, sebagai kawula biasa, ia sepatutnya menyembah kepada Pangeran Arumbinang dan Ki Ageng Permana, dua bangsawan terhormat dari istana Mataram.Dasar juwita, gerak menyembah pun membuat orang terpana.

Setelah menuangkan minuman ke dalam cangkir kedua tamu agung itu, Nimas memohon diri, dan mundur masih menundukkan muka dengan sopan. Setelah selir semlohai itu hilang di balik slintru, Ki Ageng Permana menghela napas dalam-dalam.

“Nakmas Demang, sungguh engkau pintar memilih ampeyan. Orangnya cantik, unggah- ungguhnya bagus, tata krama, ehm,” puji ningrat sepuh itu. Demang Suradipa tentu saja bangga, tapi hanya menjawab merendah. “Ia wanita bodoh dari dusun, mana layak disanjung?”

Pangeran Arumbinang tertawa berderai.

“Kangmas Demang jangan meremehkan Nimas Lembah. Jujur saja sepanjang hidupku belum pernah menemukan wanita sedemikian cantik dan sopan. Mungkin saja dulu saat khitanan klop petungan naga dina, maka banyak perempuan cantik jatuh cinta,” candanya.

Sriwing-sriwing aku dengar Nimas Lembah pintar nyinden dan menari gambyong. Jika kakang mbok berkenan menyanyi, juga Kangmas membolehkan, rasanya tidak muspra jauh-jauh aku ke Tembayat,” sambungnya setengah mendesak.

Terdorong rasa bangga, saat itu Demang Suradipa lupa bahwa (seharusnya) dirinya dalam keadaan prihatin karena keluarganya diculik perampok. Keprihatinan sebagaimana kebanggaan; semua itu pertanda handarbeni. Ki Suradipa sepertinya tidak ada rasa memiliki kepada anak istri.

“Malam nanti kita bersama menonton Nimas menari dan menembang,” ujarnya mangkak.

Ki Ageng Permana mengerutkan dahi walau sekilas. Ia merasa janggal pembicaraan dua orang itu, tapi tidak berani ikut campur. Suka atau duka demang yang baru kemaren istri serta anaknya diculik, bukan urusan juga bukan tugasnya. Demang Suradipa juga melihat Ki Permana berkerinyit, ia langsung sadar bahwa ini bukan saat tempat bersenang-senang. Tapi janji kepada Pangeran Arumbinang? Ia takut cidra. Apa boleh buat.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 032