Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 034

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 034Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
18 Juli 2020 03:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Ki Demang langsung memerintahkan pengendang itu untuk melayani sebaik-baiknya. Penabuh bonang, gender, dan wiyaga lain beranjak turun ke pelataran, beberapa dari mereka bermuka murung tidak terpilih sebagai “mentor” sang pangeran.

Hari telah larut malam, wayah sepi bocah. Demang Suradipa masuk ke biliknya sesudah mengantar Ki Permana ke kamar tamu khusus. Pangeran Arumbinang masih di ruangan tengah bersama Ki Pardiman, dan terdengar kendang dipukul pelan ketika orang tua itu serius memberi petunjuk kepada Pangeran Arumbinang yang mendengarkan “pelajaran” setengah hati.

“Menurut hamba, ada beda belajar kendang secara kursus dengan alami. Kalau kursus, ada pakemnya, ada kuncinya. Hamba tidak memikirkan pakem. Itulah sebabnya karakter pemain kendang berbeda-beda. Di karawitan yang memegang kendali itu pengendang,” ujar Ki Pardiman bangga (pada zaman sekarang ia sekelas Dory Harsa, Cak Met, Nyi Epep atau Mutik Nida-pen)

“Sebaiknya kendang berapa set?” tanya Pangeran Arumbinang sambil lalu.

“Ada yang 7, ada yang 9 dengan tabla. Isinya 8 tak, 1 dem. Kendang bisa dipelajari siapapun. Yang tak dapat ditiru itu rasanya. Jadi, intinya pada rasa. Melakukan apapun, kuncinya pada rasa. Tanpa rasa akan cemplang,” jawab Ki Pardiman. “Rasa membuat eco!” sambungnya.

Rasa!

“Aku menginginkan Nimas Lembah juga pakai rasa, tentu eco,” bisik sang pangeran di hati. Ia senyum-senyum sendiri. Eco !

“Ki Pardiman berapa lama mengiringi kakang mbok Nimas Lembah?”

“Sejak roro Nimas masih belajar menari, hamba bahkan yang melatihnya,” ujar bangga Ki Pardiman. Pangeran Arumbinang mengangguk-angguk puas. Eco.

“Engkau sebenarnya sangat pantas memimpin para wiyaga di keraton Mataram. Engkau seniman hebat. Bagaimana menurutmu Ki Pardiman?”

Orang tua itu terhenyak dengan mata terbeliak. Memimpin karawitan di istana?! Eco.

“Apakah hamba patut, Gusti Pangeran? Hamba orang bodoh. Berasal dari desa pelosok, Srebegan selatan Kali Kebo, sama seperti roro Nimas,” pengendang itu menyembah, juga dengan “rasa” ke Pangeran Arumbinang.

“Jangan merendah, Ki. Manusia memang harus tawadlu, tapi selain itu juga dapat menilai kemampuan diri. Jika aku sendiri yang matur ke rama prabu, tentu beliau sarujuk,” kata tegas itu membuat tak kepalang girang Ki Pardiman. Siapa yang tidak merindukan kedudukan mulia?!

Demikianlah, dengan halus, dengan kamukten, Pangeran Arumbinang berhasil membujuk Ki Pardiman sebagai jembatan bertemu dengan Nimas Lembah. Tentu Ki Pardiman, dalam kapasitas sebagai “wot atau kreteg” menggunakan rasa, yakni rasa ingin mulia. Begitu pula, Pangeran Arumbinang dan Nimas Lembah Manah, bercengkerama di balik punggung Demang Suradipa, juga memakai rasa. Eco.

*******

DI TENGAH hutan Somawana yang masih perawan, dan tidak begitu jauh dengan hutan Anjali, tenggara Mojolaban, Damar bersama Dinar gigih melatih kawan-kawan mereka bermain pedang. Pada senja lembayung itu keduanya lesehan di bawah beringin tua besar, melepaskan lelah dan beberapa kali memandangi para pemuda yang sedang gladi itu dengan puas. Mereka rata-rata tangkas, dan cepat menerima pelajaran.

 BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 035