Sedang Belajar Menulis? Ini Petuah Inspiratif dari Sapardi Djoko Damono

Sedang Belajar Menulis? Ini Petuah Inspiratif dari Sapardi Djoko Damono Sapardi Djoko Damono - Antara
19 Juli 2020 17:37 WIB Nirmala Aninda Hiburan Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Pujangga Tanah Air, Sapardi Djoko Damono meninggal dunia, Minggu (19/7/2020). Semasa hidupnya, ia menghabiskan waktu untuk menekuni sastra dan membuat karya.

Ia pernah berkata bahwa untuk menulis, kuasailah bahasa karena menulis adalah seni menyampaikan pikiran lewat kata.

Sering kali kita berada pada situasi di mana sulit rasanya untuk memulai kata sehingga sebelum menulis sehingga dibutuhkan penguasaan bahasa.

Baca juga: Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia, Seperti Ini Perjalanan Hidup Sang Pujangga

Menurut penyair yang dikenal dengan karya-karya puisinya seperti Perahu Kertas (1983), Hujan Bulan Juni (1994), Ayat-Ayat Api (200), semakin tinggi penguasaan bahasa, maka tingkat kesulitannya akan semakin rendah.

"Modal seorang penulis adalah penguasaan bahasa," ujar Sapardi seperti dikutip melalui video wawancara pada 2018 silam di akun Youtube Kwikku, Minggu (19/7/2020).

Selain penguasaan bahasa, membaca juga disebutkannya sebagai modal penting seorang pengarang.

Baca juga: Puisi-Puisi Terpopuler Sapardi Djoko Damono, Sederhana Namun Penuh Makna Kehidupan

Kemampuan membaca, kesediaan membaca, dan kesabaran membaca dibutuhkan karena membaca bukan hanya sekadar membolak-balikkan halaman.

Seorang pengarang harus mampu mengkritisi dan menguasai teknik karangan yang dibaca.

Sastrawan itu juga bukan seorang penganut bahwa inspirasi datang ketika ditunggu.

"Saya tidak percaya pada inspirasi, saya percaya pada niat. Niat untuk menulis, jangan menunggu inspirasi," tukasnya.

Dia menuturkan ketika kita menerima informasi, bertemu orang, melihat peristiwa, semuanya akan terproses di kepala dan itu yang kemudian menjadi bahan karangan.

"Kalau pergi ke sungai dan menunggu inspirasi, tidak akan sampai [datangnya inspirasi]. Niatkan saya ingin menulis, itu yang saya kerjakan," ujarnya.

Profesor di Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu juga menyampaikan bahwa selain mencintai sastra, karakter yang harus dimiliki seorang penulis antara lain adalah kecerdasan berbahasa.

Menguasai penggunaan bahasa membuat sesuatu yang rumit menjadi mudah dipahami, ujar Sapardi, adalah tugas utama penulis.

Penulis juga harus memahami bidang-bidang lain seperti politik dan ekonomi karena dua bidang ini juga merupakan bagian dari keterampilan berbahasa.

"Kalau kita tidak tahu apa-apa, lalu apa yang bisa ditulis. Dengan memahami bidang ini, apa yang ada di dalam pikiran sang penulis dapat disalurkan dengan lebih baik melalui caranya masing-masing," tuturnya.

Menulis didasari dengan apa yang ditulis akan dibaca dan dibutuhkan oleh orang lain. Orang-orang akan tertarik untuk membaca ketika dapat memperkaya pengetahuan pembaca, serta disusun dengan kemampuan bahasa dan pemahaman sang penulis yang baik.

Kepada para generasi muda yang bermimpi untuk menjadi penulis, Sapardi menyampaikan bahwa kesetiaan pada apa yang ditekuni adalah pegangan utama seorang penulis.

Ketakutan tidak dapat hidup dari profesi sebagai penulis kerap menjadi penghalang bagi penulis muda untuk maju, khawatir dengan stigma dan realita di lapangan.

Dari sana dia berpikir bahwa harus ada alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut, untuk itu sehingga sastrawan itu memilih berprofesi sebagai guru sambil tetap menghasilkan karya-karya yang sekarang menjadi peninggalan terbaiknya.

"Kita tidak perlu terlalu dipusingkan dengan perkataan orang lain, terus kejar apa yang diinginkan," ujarnya.

Menulis akan selalu jadi bagian dari hidup Sapardi, menyampaikan buah-buah pikirannya melalui puisi. 

Kesetiaannya pada sastra didasari oleh keyakinannya pada kata.

"Sebagai pengarang, kita harus memiliki kepercayaan pada kata. Iman saya adalah kata, menulis adalah menyampaikan sesuatu lewat kata. Selama saya beriman pada kata, saya akan tetap menulis," tutup Sapardi.

Sumber : Bisnis.com