Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 037

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 037Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
20 Juli 2020 22:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Latri memandang dengan mulut ternganga. Belum pernah selama hidupnya ia berhadapan dengan seorang anak muda yang santun, baik budi, tetapi yang bicaranya lugas tanpa aling-aling. Kalau Latri tidak melihat pandangan pemuda itu sangat sopan, tentu menimbulkan prasangka ia laki-laki kurang ajar perayu wanita.

“Dadaku rasanya plong. Jeng Latri sudah tahu apa yang terkandung di dalam hatiku. Aku hanya bisa menunggu, entah sampai kapan, jawaban jujur darimu,” kata Dinar.

Latri terkunci mulutnya. Beberapa kali ia menelan ludah dengan paras merah padam dan sinar mata bingung. Kemudian gadis cantik itu membalikkan tubuh sambil setengah tertawa dan separuh terisak. Perasaannya campur aduk tidak karuan.

“Kakang, engkau…ahh, engkau lucu,”

Sepeninggal Latri, wajah Dinar terlihat bingung dan tersipu.

“Celaka. Aku terlalu sembrono. Aku terlanjur menyatakan cinta. Dan Latri? Aku malah dikatakan lucu. Apa benar aku ini lucu?” Dinar menggaruk-garuk kepalanya yang berambut ikal sambil cengengesan. Ini baru lucu.

“Tidak masalah. Latri mau menanggapi seperti apa, yang jelas aku mendahului Damar!”

Sementara itu, Latri tercenung di bawah pohon bungur. Ia menganggap Dinar pemuda jujur dan menarik hati, tapi sebentar, di sana ada pula anak muda lain yang pendiam: Damar.

“Sepertinya aku jatuh cinta pada Kakang Damar,” bisiknya bimbang.

Beberapa saat Latri termenung, kemudian berdiri mencari ibunya di dapur umum.

Setelah turun malam, Badrun memberi laporan rinci. Pasukan Tembayat terdiri lima unit kelompok, total seratus tiga puluh tentara, di bawah komando Pranacitra yang terkenal perkasa. Dan sialnya, pemimpin prajurit yang berpengalaman luas itu tidak membawa rombongan masuk hutan, melainkan mendirikan tenda-tenda di pinggir alas.

“Kita mengubah strategi,” kata Damar dengan paras keruh. Mereka mengatur siasat, dan sesudah hari benar-benar gelap, Damar dan Dinar membawa teman-temannya ke tempat di mana pasukan Pranacitra berkumpul. Saat itu Pranacitra sedang berunding dengan seluruh pimpinan bregada, mengemukakan siasat besok sebelum terang tanah menyergap “pemberontak” di tengah hutan untuk menolong Mila Banowati dan putrinya. Sekonyong-konyong terdengar suara tertawa dari dalam alas yang pekat.

“Hmmm, Pranacitra, senopati digdaya, bantengnya Tembayat. Engkau akan menangkap aku? Sedemikian mudahnya? Ha ha ha. Kalian ini para pecundang, bernyali emprit, jangan kira gampang menjebak aku, Pranacitra pengecut.”

Dari kejauhan tampak seorang pemuda tampan membawa obor berdiri gagah di bawah pohon mahoni. Pranacita memandang tajam. Dadanya panas dimaki pengecut. Dia orang paling disegani di Tembayat setelah Demang Suradipa.

“Anak itu,” bisik Dobleh dalam hati. Ia heran dan sama sekali tidak menduga berjumpa Damar di situ. Ia tidak mengenal dua orang pemuda berkedok yang membasmi kawan-kawannya Demang Suradipa yang menyuruh ia wara-wara kepada siapa saja bahwa perampok itu putra Begawan Sempani bernama Damar.

Sementara itu Pranacitra yang merah padam mukanya disebut pengecut, secara tersamar memberi perintah, dan seorang ahli panah melepaskan tujuh batang anak panah ke arah Damar. Tiba-tiba obor padam.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 038