Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 042

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 042Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
22 Juli 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

042

“Masih belum terlambat Kangmas membunuhku. Tapi jika Kangmas dapat mengampuni aku, dan masih percaya padaku, ada sebuah siasat untuk Kangmas menghindar dari kemurkaan Panembahan Senopati.” ujar Nimas Lembah masih dalam posisi timpuh. Kembennya ternganga seperti tadi. Ia tidak merasa kedinginan dengan payudara terbuka.

“Siasat apa?” tanya Ki Suradipa antara jengkel, marah, dan penasaran ingin tahu.

“Tidak ada seorang pun saksi yang masih hidup di taman ini. Ki Ageng Permana sebagai saksi mahkota sudah tewas. Nah, bukankah Kangmas dengan gampang mengabarkan ke seluruh penduduk Tembayat, bahwa Damar, ya Damar putra Begawan Sempani, yang menyelinap dan bersama kawan-kawannya melakukan pembantaian di sini. Pangeran Arumbinang, dan Ki Ageng Permana ikut tewas dalam pertempuran, sementara Kangmas terluka,” bisik Nimas Lembah, dan netra awasnya tahu bahwa suaminya terbujuk dengan strateginya.

Dan benar!

Bersinarlah cahaya terang dalam benak Demang Suradipa. Demang sakti itu berdiri, lalu memeluk selirnya sambil berbisik pelan namun penuh ancaman:

“Siasatmu sangat bagus. Kita jadikan Damar kambing hitam. Aku dan engkau terhindar dari petaka. Untuk itu aku maafkan engkau, Lembah. Tapi ingat, jangan engkau berbuat bodoh lagi, jika engkau tidak ingin tubuh mulusmu hancur oleh pusakaku.”

Setelah bermufakat, Demang Suradipa menggunakan keris Singa Barong untuk menusuk lengan kirinya. Ia kemudian telentang di atas tanah, dan Nimas Lembah berteriak-teriak minta tolong sambil menangis di depan tubuh Demang Suradipa. Para pengawal dan peronda seketika berdatangan meloncati pagar.

Alangkah terkejutnya mereka melihat junjungannya tergeletak dengan darah meleleh dari lengannya. Demang Suradipa seorang kosen, mandraguna, siapa yang mampu mengalahkannya?! Lebih kaget lagi ketika mereka menemukan dua mayat terbujur kaku, sang pangeran dari Mataram dan penasihat spiritualnya. Segera Ki Suradipa diangkut ke dalam, juga kedua jenazah dibawa ke ruang tengah untuk dirukti.

Berceritalah Demang Suradipa setelah mendapat perawatan dari tabib terkenal, bahwa ia dan selirnya malam itu sedang menghibur dua tamu agung di Langen Sari. Tiba-tiba datang Damar beserta gerombolannya, tanpa banyak bicara langsung menyerang mereka berempat.

“Pangeran Arumbinang dan Ki Ageng Permana tewas mengenaskan. Kangmas Demang terluka karena dikeroyok secara licik oleh teman-teman Damar,” Nimas Lembah ikut bercerita.

“Sesungguhnya jika satu lawan satu, tentu tidak seorangpun mampu mengalahkanku. Itu sebabnya aku tidak meminta bantuan kalian. Ternyata ..”

“Ternyata Kangmas dikerubut secara brutal,” sambung Nimas Lembah marah.

Cerita ini meragukan, memang. Tapi, siapa berani menyangkal? Yang menuturkan adalah demang mereka sendiri yang sangat disegani sekaligus ditakuti. Dan diperkuat dengan selirnya, yang berkisah sambil sesekali menyeka matanya. Bagaimana dengan Sandiman? Juru taman itu mana berani membuka mulut? Juga Ki Pardiman, pengendang ini memilih diam seribu bahasa. Ia yang menjadi jembatan bertemunya Pangeran Arumbinang dan Nimas Lembah. Jika salah ucap, sama dengan mencekik lehernya sendiri.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 043