Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 043

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 043Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
23 Juli 2020 22:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

043

Tanpa sadar juru kendang itu meraba-raba lehernya, ini kali tidak dengan “rasa”. Dan itulah usapan terakhirnya. Sebab keesokan harinya Sandiman Pardiman lenyap. Ke mana? Hanya Demang Suradipa dan Nimas yang paham. Dan Anda, tentunya.

Dan pagi itu, ketika Damar bersama Dinar sampai di Tembayat, mereka mendengar ada insiden menggemparkan, dan kembali Damar mengutuk kekejaman Demang Suradipa, tentunya juga Nimas Lembah. Mereka paham, cerita bohong itu disebarkan dengan tujuan menjelekkan ia dan kawan-kawan seperjuangan. Damar yakin yang membunuh Ki Ageng Permana dan Pangeran Arumbinang adalah Demang Suradipa sendiri, entah persoalan apa. Ketika Dinar seorang diri menghadap Demang Suradipa, betapa terkejutnya demang itu mendengar kata-kata prajurit muda dengan muka lusuh penuh lumpur itu.

“Lapor, Gusti Demang. Pasukan kita dihancurkan oleh Damar dan gerombolannya. Maka mohon dikirim bantuan yang besar jumlahnya,” kata Dinar terbata-bata.

“He, anak muda. Engkau siapa? Dan siapa yang menyuruhmu kemari?” bentak seorang perwira yang merasa asing karena tidak mengenal tentara muda ini.

Dinar menyembah hormat membuat dada perwira itu berdenyar bangga.

“Hamba prajurit dari dusun Kalikotes, yang turut membantu pasukan Gusti Pranacitra,” jawab Dinar tegas. “Kami membenci gerombolan perampok yang bermarkas di alas Somawana. Malam tadi kami secara curang disergap di tengah hutan, dan banyak sekali kawan kami binasa. Gusti Pranacitra menyuruh kami ke Tembayat memberi laporan,” tambahnya.

Demang Suradipa menggebrak meja di depannya. Ia tidak begitu menghiraukan, tentara dari mana saja yang bergabung, toh ia sendiri yang sering merekrut para penyamun masuk dalam jajaran keprajuritan atau membentuk bregada sendiri.

“Keparat Damar! Ia harus dimusnahkan. He, kalian para perwira, segeralah berbenah diri. Kita berlomba dengan waktu. Bawa seluruh prajurit ke alas Somawana. Tumpas seakar-akarnya kawanan pengacau pimpinan Damar bocah edan itu,” perintah Demang Suradipa.

“Dan engkau, Lurah Sandika, bawa satu regu prajurit untuk memberi kabar ke Mataram. Di Kademangan Tembayat timbul pemberontakan yang dipimpin Damar dan berpusat di tengah hutan Somawana. Damar itulah yang membunuh Pangeran Arumbinang dan Ki Ageng Permana” sambungnya.

Maka berangkatlah Lurah Sandika dengan membawa sepuluh prajurit berkuda menuju ke Mataram untuk menyampaikan berita menggegerkan itu. Sedangkan para perwira lainnya sibuk mengumpulkan seluruh tentara dengan membawa Dinar sebagai pemandu. Barisan meliuk-liuk seperti naga itu memarani Hutan Somawana.

Meski penat luar biasa, Dinar tertawa geli dalam hati, dan keriangannya tidak terhingga melihat hasil pancingannya ini. Ia tahu pasti, di Dusun Anjali, Damar sudah menyiapkan strategi dengan matang. Sebentar-sebentar Dinar berhenti dengan berkilah dirinya agak lupa jalan karena perjalanan Somawana-Tembayat dilakukan malam hari. Ia perlu mengingat-ingat, dan kelakuan Dinar menjengkelkan para prajurit, namun mereka maklum “tentara ndeso” ini memang tampak dungu serta kurang pengalaman. Mereka hanya bisa menggerundal kesal.

“Maafkan saya. Semalaman tidak tidur.” Tidak ada yang memedulikan kilah Dinar.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 044