Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 044

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 044Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
23 Juli 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

044

Lambatnya perjalanan membuat pasukan besar itu sampai di mulut Hutan Somawana saat matahari angslup. Pranacitra gelisah menanti bantuan yang ditunggu sekian lama tidak juga tiba. Senopati perkasa itu melarang para prajuritnya pergi menjauhi perkemahan.

Dan di tengah hutan, Damar menyusun siasat cerdas: ia ingin mencari kemenangan telak, tanpa mengorbankan kawan-kawannya. Ketika dari kejauhan ia melihat Dinar berhasil membawa pasukan, Damar mengajak empat orang teman yang dianggap cukup mumpuni maju mendekati rombongan prajurit dari Tembayat. Mereka menunggu saat yang tepat.

“Satu. Dua. Tiga!” Damar memberi aba-aba. Dan rekan-rekan seperjuangan itu bersorak- sorai melepaskan anak panah dari dalam hutan seperti dilakukan tadi malam.

“Itu gerombolan Damar. Ayo serbu!”

Pasukan yang baru saja datang ini berjumlah hampir dua ratus prajurit. Mereka menyerbu ke dalam hutan dengan berteriak-teriak. Belum berapa lama pertempuran berlangsung, beberapa tentara roboh terkena anak panah yang dilepas Damar dan anak buahnya. Namun karena mereka membekali diri dengan perisai, maka yang menjadi korban tidak sebanyak malam tadi.

Damar mengajak teman-temannya menyelinap di balik pohon-pohon raksasa. Setiap kali sudah berada di tempat agak jauh, mereka bersorak untuk memberi “petunjuk” musuhnya. Juga di tempat lain, anak-anak muda menggunakan anak panah menyerang pasukan Pranacitra yang bertenda di luar hutan. Hujan panah itu hanya untuk mengusik sekaligus memberi “tanda” bahwa Damar dan kelompoknya berada di dalam hutan. Pranacitra tidak mau mengulang kesalahan lagi maka anak buahnya hanya disuruh berjaga-jaga dan sesekali membalas dengan panah juga.

Setelah pasukan bantuan itu mengejar sampai di dekat pinggir alas dan bergabung dengan Pranacita, kesempatan itu dipergunakan Damar dan kawan-kawannya berkumpul dengan mereka yang tadi mengganggu Pranacitra. Sementara itu, Damar berteriak lantang:

“Mereka lari sampai di luar hutan. Lihat, mereka berkumpul di perkemahan. Kini saatnya kita serbu!”

Para perwira tidak dapat melihat jelas apa yang ada di rimba pekat itu. Secara samar para pimpinan kelompok melihat di luar hutan memang berkumpul banyak orang, dan bahkan datang banyak sekali anak panah. Para perwira memberi perintah, dan semua prajurit menyerbu dengan golok dan tombak.

Sebaliknya, Pranacitra beserta sisa-sisa laskarnya tiba-tiba melihat banyak orang muncul dari hutan dan lari menyerbu, mereka menduga itu Damar dan kelompoknya. Mereka bersiaga, dan terjadilah perang di dalam gelap karena di langit bulan tertutup mendung. Terdengar pekik kemenangan dari satu pihak yang berhasil merobohkan lawan untuk kemudian dirobohkan oleh kawannya yang lain. Suasana kacau tak terkendali.

Damar memeluk Dinar yang berhasil menggiring pasukan dari Tembayat. Juga para pemuda tertawa-tawa “menonton” pertempuran dahsyat di pinggir hutan. Ganti Dinar yang kini menyanjung Damar, karena dengan siasatnya yang cerdik berhasil “mengadu domba” sesama prajurit Tembayat.

Sekali lagi, perang adalah kebengisan yang diberhalkan. Damar dan Dinar beserta kawan kawannya di sebalik pohon tergelak-gelak tanpa matanya “mendengar” desah serta darah para prajurit. Mereka hanya tahu bahwa, dalam perang, apa yang awam menyebutnya sikap heroik itu mungkin hanya semacam omong kosong.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 045