Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 053

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 053Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
01 Agustus 2020 00:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

053

Panembahan Senopati bertanya setengah menyesal. Ia merasa eman, pemuda segagah dan seberani ini menjadi musuhnya.

“Mohon ampunan kanjeng gusti sinuhun. Dalam benak hamba tidak terbersit niat meski sekecil apapun untuk memberontak terhadap paduka yang adil dan bijaksana,” ujar Damar.

“Lalu, apa yang selama ini engkau lakukan bersama kawan-kawanmu?”

“Demang Tembayat tidak adil dan sewenang-wenang. Dia mengirim pasukan ke dalam Hutan Somawana ini di bawah pimpinan Pranacitra. Hamba dan seluruh warga Desa Anjali tidak merasa berdosa. Kami berani melawan Demang Suradipa, bukan Mataram.”

Panembahan Senopati sejenak tercenung. Benar juga ucapan anak muda di depannya ini.

“Demang Suradipa bukan hanya tidak adil, ia licik, lancung, dan penuh angkara. Hamba memusuhinya sebagai pribadi, bukan kedudukannya sebagai demang di bawah daulat Mataram.”

“Engkau menculik Mila Banowati?” bentak Panembahan Senopati.

“Ampun kanjeng sinuhun. Hamba tidak melakukan!” Damar menjawab tegas.

“Dia dusta kanjeng sinuhun. Dia menculik Gusti Mila dan membunuhi seluruh pengawal. Beruntung ada salah satu yang berhasil menyelamatkan diri,” sergah Pranacitra, lalu memanggil Dobleh maju ke depan.

“Ceritakan sejelas-jelasnya,” kata Pranacitra.

Dobleh lalu bercerita, bahwa ia bersama teman-temannya dalam bregada plangkir dicegat oleh Damar dan seorang kawannya. Semua teman Dobleh, termasuk delapan buruh jempana tak luput dari kebengisan Damar.

“Saya melarikan diri dan memberi laporan kepada Demang Ki Suradipa.”

“Bagaimana pertanggungjawabanmu Damar?” tanya Panembahan Senopati.

“Benar hamba membunuh mereka. Tapi bukan hamba ingin menculik, justru hamba yang membebaskan bibi Mila dan putrinya yang akan mereka bunuh,” jawaban Damar itu terdengar aneh dan tidak masuk akal. Para pengawal akan membunuh majikan putrinya?!

“Damar, jangan engkau main-main!” hardik Panembahan Senopati dengan suara keras. Ia memanggil salah satu pengawal terpercaya.

“Kalau engkau berbohong, prajuritku ini akan merangket sampai engkau minta ampun.”

Damar tetap bersila dengan wajah tenang. Hal ini tidak lepas dari pengamatan sang prabu yang entah kenapa merasa bangga atas sikap pemuda itu.

“Terserah kebijaksanaan paduka yang terkenal wicaksana. Hamba tidak merasa bersalah. Jika hamba harus dihukum, hamba pasrah.”

Sang prabu memberi perintah, dan pengawal itu mengayun cambuknya keras sekali. Satu kali lecutan, darah pun meleleh dari kulit punggung yang pecah oleh ujung cemeti.

Damar sama sekali tidak mengeluh, dan ia sengaja tidak mau menggunakan aji kasektennya. Jika aji Tameng Waja dikeluarkan, apa artinya pecut dari kulit kerbau itu? Dinar yang jenaka, tampak bersedih, dan matanya basah air mata. Begitu pula para pemuda Anjali. Bahkan orang-orang tua beserta para wanita setengah baya semuanya menangis pilu. Hanya Pranacitra dan Dobleh yang girang berhasil membalas dendam.

Cambuk terayun terus, dan tepat pada hitungan ke lima, tiba-tiba terdengar jeritan suara wanita. Dari belakang rombongan Damar berlari-larian dua orang perempuan, Mila Banowati dan putrinya. Tanpa sungkan Latri mendekap Damar sambil menangis nanar. Sedangkan Mila menghampiri ayahandanya, dan menyembah di depan Panembahan Senopati.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 054