Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 054

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 054Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
01 Agustus 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

054

Mila Banowati menghampiri ayahandanya, dan menyembah di depan Panembahan Senopati.

“Berhenti!” perintah gusti prabu kepada pengawal yang bersiap mencambuk Damar.

“Rama prabu, pemuda ini tidak berdosa, mohon ampunan. Damar ini yang membebaskan aku dan Latri dari kebengisan para penyamun yang pura-pura menjadi pengawal,” Mila dengan jelas menceritakan betapa sesungguhnya “bregada plangkir” itulah yang berencana menghabisi nyawanya. Tanpa pertolongan Damar dan Dinar, tentu mereka berdua sudah binasa.

Kraaaak!” Raden Rangga begitu marahnya sehingga lupa diri. Sekali tendang, lengan kanan Dobleh patah dan remuk tulangnya. Selanjutnya, jika toh hidup, Dobleh cacat permanen.

Sementara itu, ketika Latri memeluknya, Damar memandang terharu. Ia tersenyum hanya untuk menunjukkan kepada sang “bidadari” bahwa hukuman cambuk itu bukan apa-apa. Latri memakai sapu tangannya yang harum untuk menyeka darah dan keringat di punggung Damar.

Dinar melihat kemesraan yang dipertontonkan Latri ini hanya menghela napas panjang. Ia tidak marah, tidak iri, tidak benci, hanya menyesali nasib sendiri. Namun, begitu mendengar Mila Banowati menyebut “Rama Prabu” kepada Panembahan Senopati, mendadak wajah Damar menjadi pucat pasi. Pemuda perkasa itu langsung roboh. Pingsan.

Latri menjerit, dan Dinar menubruk sahabatnya itu, menggoyang-goyang tubuhnya yang lemas. Semua orang heran, termasuk Panembahan Senopati. Tadi, dilecut cemeti lima kali, darah meleleh dari luka yang menganga, Damar biasa saja. Bahkan matanya sama sekali tak berkedip. Sekarang “hanya” dipeluk Latri, langsung tidak sadar diri.

Tidak berapa lama, Damar siuman, dan ia tertawa keras sekali. Barangkali tenaga dalam tersalurkan lewat tawa tersebut sehingga membahana mengguncang dedaunan. Suara tawanya sangat menyeramkan.

“Kanjeng gusti sinuhun, hamba mendengar betapa paduka adalah maha raja yang sakti mandraguna dan permana. Maka hamba bangga sekali hari ini merasakan sedikit hukuman dari paduka,” ujar Damar tenang setelah ia berhenti tertawa.

Latri heran melihat perubahan sikap Damar yang kini sama sekali tidak menghiraukan. Di hadapan eyangnya, Latri tidak berani mengucap sesuatu, ia hanya menundukkan kepala. Dan Dinar memandang sahabatnya dengan heran. Sebaliknya Panembahan Senopati tersenyum. Ada beberapa hal yang membuat gusti prabu bergembira, antara lain melihat putri dan cucunya tak kurang suatu apa, juga ternyata anak muda yang dikagumi itu bukan pemberontak.

“Damar, engkau kena fitnah. Seharusnyalah aku berterima kasih kepadamu, karena kau telah menolong nyawa putri dan cucuku. Akan tetapi, masih ada satu hal mengganjal di hatiku, benarkah engkau membunuh Pangeran Arumbinang?”

Damar menyembah.

“Jika paduka mengizinkan, biarlah hamba menghadapi Demang Suradipa di Tembayat. Bila hamba berhadap-hadapan dengan demang pengecut itu, tentu paduka akan semakin jelas semua persoalannya.”

Dinar mengerutkan kening, juga Raden Rangga memandang marah. Jawaban ini kurang tata krama, namun Panembahan Senopati bersikap biasa, malah bertanya dengan halus:

“Engkau berani menghadapi Demang Suradipa yang pernah menjadi Banteng Mataram?”

“Hamba tidak akan mundur setapak pun menghadapi seorang penjahat!”

Bersambung: Sandyakala Ratu Malang 055